January 12, 2018

Rahasia Menjadi Seorang Penulis, Kisah Ketika Semua Jalan Seolah Tertutup





Rahasia Menjadi Seorang Penulis, Kisah Ketika Semua Jalan Seolah Tertutup

Pernah dengar dengan istilah tentang anak batak di perantauan kan? Batak tembak langsung. Tapi ini untuk setting ceritra tahun tahun 70an. Itu menurut saya adalah upaya untuk menggambarkan anak-anak batak yang di kampungnya sana, dia dengan segala keterbatasannya. Dia yang aslinya belum tahu apa-apa, dia yang tidak tahu apa itu universitas, apa itu aturan lalu lintas jalan; tidak tahu mana saatnya stop dan mana saat jalan ketika melihat lampu setopan “abang-ijo” di jalanan. Tetapi semua itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk melanjutkan kuliah ke Jawa. Banyak dari mereka yang kondisi orang tuanya, sungguh tidak memungkinkan untuk membiayai kuliahnya. Tapi anak-anak batak itu tetap nekad. Saya salah satu diantaranya. Saya waktu itu, hanya berbekal uang sebesar 15 ribu rupiah dengan kesanggupan orang tua biaya bulanan satu ribu perbulan, dengan tujuan  Yogyakarta. Ongkos kapal waktu itu sudah 6 ribu, uang daftar di UGM 3 ribu. Belum lagi ini itu, jelas membaginya tidak bisa atau sangat sulit sekali.

Tapi itulah jalannya kehidupan, panggilan suratan tangan. Sesungguhnya kisah itu sendiri jauh lebih menarik kalau dituliskan dengan hati. Bagaimana anak kampung dengan semua ke idiotannya menapaki hidup di kota besar metropolitan. Umumnya  teman-teman meski tetap terbatas, tetapi umumnya punya uang bulanan bervariasi, antara 15-25 ribu perbulan. Tapi hal itu sama sekali tidak memberi pengaruh. Saya bersyukur karena meski dengan berbagai keterbatasan itu, ternyata saya diterima kuliah di UGM. Saat itu sebuah pencapaian luar biasa. Tetapi dengan uang satu ribu rupiah perbulan jelas ini sebuah tantangan. Oh ya, waktu itu harga beras per Kg baru Rp 30. Tantangannya nyata dan sungguh luar biasa.
Saya sendiri punya jurus kehidupan langka tapi hemat saya pas. Misalnya dalam mencari tempat Kos, carilah di wilayah kota yang tidak ada listriknya. Maksudnya agar segalanya lebih terjangkau dan murah. Lokasi itu saya temukan, yakni di Gondolayu, pinggir kali Code. Memang kondisinya kumuh, dan tempat mandinya juga di sumur-sumur seadanya di pinggiran kali code itu. Tapi bagi anak kampung seperti saya jelas itu jauh lebih baik dari di Kampung saya. Waktu itu saya malah dapat tempat kost yang tidak perlu bayar apa-apa.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana hidup dengan uang sebesar itu? Memang harga beras waktu itu per kilonya juga masih rp 30 rupiah. Jadi 10 kg harganya sebesar 300 rupiah. Tapi hidup dengan uang 700 rupiah perbulan, sudah termasuk semuanya secara logika itu tidak masuk akal. Teman saya yang waktu itu kost di asrama Realino, bayarannya sudah 15 ribu rupiah per bulan. Tapi saya sangat percaya jalan pasti ada. Saya  yakin sekali jalan untuk itu pasti ada. Cuma sayangnya saya belum tahu. Dari berbagai analisa yang saya lakukan, maka jalan yang tersedia adalah jadi penulis di koran harian. Karena menulis tidak terikat waktu, tidak menggangu waktu kuliah. Tapi menulis untuk bisa dimuat di koran tentunya, bukanlah tulisan yang dibuat oleh penulis seperti saya yang tidak tahu apa-apa tentang menulis. Tapi jalan itu jelas terbuka. Dan saya percaya jalan saya ada di sana. Cuma bagaimana memulainya.
Saya beruntung dan tergolong anak anak yang mudah beradaptasi, dan dengan cepat saya mendapatkan tugas sebagai pembersih dan penunggu “kantor” RW. Sebagai petugas RW saya boleh memakai sarana itu kapan saja, tugas saya hanya merawat kantor dan mengetikkan dan menyampaikan surat-surat dinas dan undangan. Entah bagaimana ceritanya, pak RW malah membolehkan saya tinggal di situ, lengkap dengan makan minum gratis di warung yang ada di dekat kantor itu. Coba bayangkan, alangkah murahnya hati pak RW itu. Tuhan menolongku lewat kebaikan hati pak RW. Sederhananya saya dapat pekerjaan jadi penjaga dan merawat kantor RW tanpa upah, tetapi sebaliknya saya bisa tinggal di kantor itu dan dapat makan di warung yang ada disamping kantor. Sungguh pencapaian yang luar biasa dan, itu saya peroleh ketika saat mandi di pinggiran kali code.
Sungguh saya sangat bersyukur karena “tangan Tuhan” memberikan saya begitu mudahnya dan semuanya. Tempat tinggal dengan semua sarananya, malah ada listrik, air ledeng dan mesin tik kantor yang bisa saya pakai sampai pagi. Padahal umumnya warga di situ ya hanya dengan lampu teplok dan air sumur. Waktu itu, sasaran dan tekad saya hanya satu jadi penulis. Menulis untuk mendapatkan honor bagi kelanjutan kuliah. Sebagai mahasiswa UGM akses ke perpustakaan terbuka lebar, bahan bacaan saya melimpah. Meski saya tidak atau belum bisa berbahasa inggeris, tapi anehnya saya merasa ngerti apa yang dimaksudkan oleh tulisan dalam buku-buku atau majalah berbahasa inggeris itu. Jadi seolah ide tulisan itu bisa saya tangkap untuk kemudian saya tuliskan dalam aroma dan suasana kehidupan sosial masyarakat kita. Saya terus menulis, menulis, menulis dan menulis. Menulis dengan mesin tik setiap ada kesempatan.
Sampai suatu hari setelah enam bulan mengetik tulisan siang  dan malam. Salah satu tulisan saya dimuat di Koran dua mingguan Eksponen Yogyakarta. Aduh senangnya bukan main. Rasanya dunia ini jadi begitu indah. Saya lalu ajak anak pak RW mengambil honor tulisan itu di jalan KH Dahlan. Memang besarnya hanya 500 rupiah, dan honor itu sendiri saya berikan ke anaknya pak RW. Maka sontak di desa itu nama saya jadi buah bibir dan terkenal, mahasiswa UGM itu ternyata pintar juga menulis. Tetapi yang lebih heboh lagi, dua minggu kemudian, koran Sinar Harapan Jakarta memuat tulisan saya dengan honor 27.500 rupiah. Setelah itu tulisan saya sudah ada dimana-mana. Bayangkan teman-teman saya umumnya hanya punya wessel antara 15-25 ribu perbulan sementara saya sudah punya penghasilan dengan rata-rata 30 ribu perbulan.
Saya percaya kemudahan itu, memang diberikan Tuhan pada saya karena saya telah meminta kepadaNYA. Saya telah melakoni hidup dengan penuh adaptasi, menjaga hubungan baik, menjadi anak muda yang santun dan ringan tangan. Saya tahu banyak orang yang bersimpati dengan upaya saya, ditambah lagi doa kedua orang tua setiap saat. Sejujurnya saya juga tahu dan yakin bahwa dalam perjalanan kehidupan saya, Tuhan pasti membantu saya dan yakin seyakin yakinnya bahwa pertolongan Tuhan pasti datang bila sudah tiba saatnya. Saya hanya perlu bersabar, bersabar dan ihtiar. Tapi kapan? Itulah rahasiaNYA. Karena itu saya melakukannya dengan yang terbaik, dengan empati serta dibalur dengan semangat pantang menyerah. Berkarya dengan merebut HatiNYA. Dengan referensi seperti itu, saya ingin menuliskan buku ini bagi anak-anak muda zaman sekarang. Zaman dimana semua serba ada dan serba tinggal sentuh.

MENULIS DI ERA DOT COM. Para pembaca yang budiman, era dot com ini adalah era para penulis memerlukan penyesuaian dari pola lama yang hanya fokus pada penulis buku tradisional untuk kemudian menjadi penulis yang memahami era dot com, memahami berbagai sarana, fasilitas serta software yang memudahkan mereka untuk berkarya dalam bidang tulis menulis yang sudah mereka senangi. Karena akan sangat sulit bagi seorang penulis yang masih tertinggal dan bertahan dengan pola tradisi lama. Tamsilannya anda bisa bayangkan bagaimana seorang penulis di zaman seperti sekarang ini masih mengan dalkan mesin tik dalam cara berkaryanya. Memang tidak ada yang salah di sana, tetapi membayangkan anda masih mengetik sembari memberikan koreksi di sana sini dengan mempergunakan tip-Ex tentulah sungguh sebuah Ironi. Siapapun memerlukan perubahan, dan perubahan membutuhkan penyesuaian. Anda perlu menyesuaikan diri dengan era dot com. Dunia dimana semua serba terbuka transparan dan sederhana, asal tahu caranya.
Apakah seorang penulis zaman ini bisa mengabaikan kehadiran jejaring sosial? Jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Linked-In, StumbleUpon, Tumblr, Google, Yahoo, Bing dll? Jawabannya jelas Tidak. Anda perlu minimal memahaminya tetapi lebih baik lagi menguasai ilmunya. Sementara penulis lainnya justeru telah berada dari bagian jejaring sosial itu sendiri. Saya masih ingat pengalaman sebagai penulis artikel koran di tahun 70an. Kita harus berlangganan beberapa koran utama, atau sering nongkrong di kios-kios koran langganan untuk sekedar melihat apakah tulisan kita dimuat pada hari itu apa tidak? Atau untuk mengetahui berita atau isu apa yang lagi “in” di berbagai media masa. Menulis pada waktu itu sungguh membutuhkan ketelatenan dan cerdas menyimpan informasi yang bakal jadi referensi bagi tulisan-tulisan berikutnya. Bayangkan, sekarang dengan perangkat komputer semua bisa dilakukan dengan mudahnya, dan bisa dilakukan dari mana saja sejauh ada koneksi online.
Buku ini bisa terbit tidak lepas dari bantuan dari para sahabat, baik itu berupa saran dan juga mereka yang ikut  menambahkan berbagai masukan untuk disertakan dalam tulisan buku ini. Memang ada beberapa yang terpaksa di tunda karena kalau dimasukkan takut akan terlalu jauh melebar dan memanjang. Padahal niat dari sananya hanya ingin membatasinya sampai pada memanfaatkan kemampuan menulis untuk membuka jalan kehidupan baru. Seperti pengalaman penulis sendiri, benar-benar merasakan betap besar manfaatnya menulis pada saat “semua jalan seolah tertutup”. Dengan menulis malah bisa dpercaya ia bisa memberi solusi dan juga bahkan mengantarkan kita ke jalan berikutnya. Jalan yang juga tidak kalah menariknya.
Saya berterima kasih kepada rekan-rekan sesama peneliti semasa di CDBR (center defence border reasearh) Universitas Pertahanan di era tahun 2012 seperti Dr Sobar Sutisna, Dr MD La Ode, Dr Nano Supriyatno Dll yang tidak bisa saya sebutkan disini;  yang ternyata adalah para penulis dan pembicara handal yang kemudian terus berkembang diatas keahlian utamanya masing-masing. Berdiskusi dengan mereka rasanya tiada bahan yang tidak bisa diurai untuk dituliskan kembali.Termasuk dengan kesediaan mereka diajak kapan saja (lewat hape) untuk berbagi informasi dan sudut pandang. Sedikit banyak pengaruh seperti itu ada pada Buku ini.
Penulis era dot com adalah penulis yang dituntut untuk dapat memahami dunia online. Penulis yang mengerti tentang SEO terkait penulisan artikelnya baik buat blog, terkait sosial media, press release, e-book dan menulis buku serta cara-cara penerbitannya. Karena itu penulis akan berusaha sekuat yang bisa untuk tetap konsisten agar alurnya mengacu kepada penulis di era online. Penulis yang berusaha memanfaatkan kemampuan menulisnya untuk kehidupannya, terserah seperti apakah kehidupannya itu sendiri. Sebab menulis di era online ini tidak terhingga peluangnya. Anda bisa jadi penulis di media masa, jadi penulis buku, penulis E-book, penulis artikel untuk berbagai website atau blog.  Penulis bayaran, penulis Gostwriter dll. Begitu banyak sehingga tidak kuat untuk menuliskannya satu persatu serta dengan imbalan yang juga tidak kalah menariknya.
Bayangkan di meja anda seolah dihadirkan ruang buku perpustakaan atau referensi yang besarnya lebih besar dari lapangan sepak Bola Gelora Bung Karno? Yang benar? La iyalah. Coba anda bayangkan betapa hebatnya layanan informasi yang bisa anda dapatkan lewat Google (www.google.com), Bing, Yahoo dll. Coba ketikkan apa saja di Search engine Google misalnya, maka dalam hitungan detik anda akan disuguhi ratusan juta info terkait apa yang anda mintak. Itu bermakna ratusan jutaan lembar buku, yang kalau anda masukkan dalam satu ruangan; sungguh tidak terbayang betapa besarnya ruangan yang anda perlukan. Kehidupan era Dot Com benar-benar informasi Dunia ini ada dalam jinjingan tangan anda; ruaarrr biasa. Kalau kita tidak bisa memanfaatkannya, maka yang konyol itu siapa?



UNTUK SIAPA BUKU SAYA TULIS. Pertama-tama dan terus terang buku ini cocok bagi mereka yang aslinya memang seorang penulis atau mereka yang hobby nya sebagai penulis tetapi juga suka kehidupan Online, apakah itu sebagai penggiat jejaring sosial seperti Facebooker, Tweeter, Linked-In, Instagram, Stumble Upon, Tumblr atau sebagai seorang blogger, atau para affiliasi atau affiliate marketing atau pebisnis online. Buku ini meski masih penuh dengan keterbatasannya tetapi satu hal yang dapat anda petik dari Buku ini yakni bisa mendapatkan berbagai peluang baru dalam dunia penulisan serta sekaligus mulai membangun bisnis Online kepenulisan itu sendiri. Buku ini sesungguhnya memperlihatkan dunia dot com, dengan berbagai celah dan peluang yang ada di dunia online dilihat dari sisi seorang penulis. Bahwa apakah anda nantinya tetap sebagai seorang penulis buku yang memahami dunia dot com atau penulis yang sepenuhnya mampu memnfaatkan dunia online bagi kepenulisan anda sendiri. Terserah anda.
Sebagai Blogger misalnya, anda dengan mudah melakukan sesuatu yang bisa dan potensil menghasilkan uang tambahan bagi anda. Pertama dengan buku ini diharapkan anda mengetahui dunia dot com, dan dengan kemampuan anda sebagai penulis dapat menulis berbagai artikel di blog yang SEO friendly, berbagai artikel yang benghantar blog anda sehingga ia mampu jadi blog yang menjadi trenzetter, yang banyak dikunjungi. Sebuah kesempatan yang bisa anda jadikan sebagai ladang baru dalam mendapatkan penghasilan, baik dari pemasukan iklan dan juga “monetize” blog anda sendiri. Di ujung semua itu anda masih bisa menjadikan blog anda sebagai tempat yang nyaman untuk mengumpulkan dan memperkenalkan tulisan-tulisan anda lainnya, baik yang berupa laporan, berupa E-Books atau buku-buku baru anda yang memberikan manfaat bagi pengunjung Blog Anda. Nanti bila tiba saatnya anda bisa membukukannya sesuai genre yang ada.  Semua itu akan membawa kemaslahatan tambahan bagi anda baik dari sisi glamornya kehidupan Dot Com atau secara finacial sekalipun.
Sasaran utama adalah mereka yang senang dengan kehidupan sebagai penulis tetapi masih awam dengan kehidupan atau peluang menulis secara Online, bagi mereka buku ini diharapkan dapat menjadi pembuka jalan untuk mereka membuka diri dengan era baru yang lebih baik lagi. Jika Anda seorang penulis dan sedang mencari cara yang cepat, sederhana, dan terbukti mampu menghasilkan uang serta menciptakan gaya hidup dot com, maka buku ini bisa menjadi sesuatu yang sesuai dan bisa saya tunjukkan untuk Anda. Lihat, itu bukan rahasia kehidupan dot com tapi cara ini jelas mampu menciptakan lebih banyak jutawan dari penulis yang ada di Nusantara. Maksudku, menghasilkan uang melalui kegiatan penulisan serta membawanya ke dunia bisnis menulis online yang ada di dalam jaringan dot com.
Benang merahnya adalah sebagai penulis di zaman dot com anda perlu membuka diri dengan dunia online, anda harus memulai nya dengan menulis artikel yang disukai oleh mesin pencari seperti Google, Bing, Yahoo dll. Untuk menulis artikel yang mereka sukai, tentu anda harus memahami apa yang disebut dengan dunia blog dan tulisan-tulisan yang SEO frindly. Sebagai penulis anda juga memerlukan pembangunan Brand anda sendiri, semua itu tersedia di dunia dot com, mulai dari yang gratis sampai yang berbayar. Idenya andalah anda harus memulai dan mengembangkan brand kepenulisan anda sendiri. Cara ini adalah salah satu cara terbaik untuk memiliki lebih banyak peluang yang bisa memberikan penghasilan, fleksibilitas, gaya hidup dot com dalam kehidupan Anda.

MENGAPA BUKU INI SAYA TULIS. Terus terang saya terinspirasi oleh banyaknya para penulis muda yang kemampuan menulisnya sungguh memukau. Tetapi mereka seolah tidak mampu menemukan pasarnya, sebab begitu mereka ke penerbit maka jelas kelasnya belum sampai. Para penerbit saat ini sudah membuat standar tersendiri. Para penerbit yang umumnya hanya akan bersedia menerbitkan buku-buku yang sudah jelas ada pasarnya, pasar yang minimal bisa menyerap sebanyak 5000 examplar pertahun. Jelas itu bukanlah dunia bagi penulis pemula. Tetapi pada saat yang sama dunia dot com memberikan begitu banyak peluang bagi para penulis. Dunia online telah hadir dan mampu menerima anda apa adanya.Kalau anda punya ilmunya, maka anda dengan mudah dapat mulai membangun Image atau brand anda meski dengan modal gratis. 
Kadang ada juga diantara mereka yag sudah memasuki dunia dot com, pandai menulis serta mempunya gaya menulis yang untuk pemula sebenarnya sudah jauh diatas rata-rata, bagus dan mengesankan tetapi hanya sebatas itu. Ada juga anak anak muda yang mengisi blognya dengan berbagai banner, iklan dan sejenisnya yang sebenarnya sedikit mengganggu bagi para pembaca mereka, yang pada ujungnya bisa membuat para pembaca mereka meninggalkan blog, yang menyebabkan berkurangnya fans setia. Hal-hal seperti itulah yang membuat saya ingin menuliskan buku ini. Kalau cara mereka menyajikannya baik dan tahu cara menempatkan media sosial di dalamnya secara benar, maka semua dapat manfaat. Para pembaca tahu produk yang sesuai dengan topik bahasan serta bermanfaat bagi mereka, dan pengelola blog sendiri bisa mulai menulis sesuai genre yang ia suka.

Tapi anda juga harus realistis. Sebagai contoh misalnya kita melihat para penulis E-Book di Amerika. Di sana tercatat ada lebih dari 35 juta orang blogger, dan hanya 5 % diantaranya yang mencoba melihat segmen E-Book sebagai sesuatu yang potensil untuk memberikan mereka penghasilan. Memang dunia E-Book beda dengan Buku. Bayangkan kalau anda sebagai penulis di sana, anda dengan mudah mendapatkan berbagai bahan tulisan yang berupa PLR, RR dan MRR mereka dengan mudah memodifikasi bahan-bahan seperti itu sesuai dengan genre yang mereka kuasai. Kalau E-Book nya sudah jadi mereka tinggal meng-Up Load nya ke Amazon.com atau Swordmans.com dll yang sejenis maka E-Book mereka sudah bisa memasuki pasar internasional yang potensinya luar biasa. Kalau E-Book anda di sukai pasar meski dengan harga $2 tetapi kalau terjual 5000 copies saja,  anda sudah mendapatkan $10.000 atau setara dengan 120 juta rupiah. Sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.


No comments:

Post a Comment