July 7, 2016

Penulis Kejar Honor, Sulitkah menulis di Harian Kompas?

Mau Lihat Si Penulis Dari Perbatasan? Klik Disini




Mau mengirim tulisan artikel ke harian Kompas? Misalnya pada rubric : Opini?  Ada baiknya baca dulu syarat-syarat tulisan atau artikel yang diterima Kompas. Minimal ada semacam “guide” untuk anda lebih memfokuskan diri?  Syarat-syarat ini sebenarnya adalah sebuah balasan dari Redaksi Kompas kepada para pengirim artikel ke harian Kompas. Sebelum era digital seperti saat ini. Biasanya redaksi Kompas, khususnya pada era tahun 90an akan mengembalikan artikel yang tidak bisa mereka muat disertai selembar informasi yang berisi kriteria umum artikel yang mereka inginkan. Kala itu meski anda tidak menyertakan prangko, redaksi tetap dengan setia mengembalikan artikel anda.

Kriteria umum ARTIKEL yang diterima Kompas:

Asli, bukan plagiasi, bukan saduran, bukan terjemahan, bukan sekadar kompilasi, bukan rangkuman pendapat/buku orang lain.
Belum pernah dimuat di media atau penerbitan lain termasuk Blog, dan juga tidak dikirim bersamaan ke media atau penerbitan lain.
Topik yang diuraikan atau dibahas adalah sesuatu yang aktual, relevan, dan menjadi persoalan dalam masyarakat.
Substansi yang dibahas menyangkut kepentingan umum, bukan kepentingan komuninas tertentu, karena Kompas adalah media umum dan bukan majalah vak atau jurnal dari disiplin tertentu.
Artikel mengandung hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain, baik informasinya, pandangan, pencerahan, pendekatan, saran, maupun solusinya.
Uraiannya bisa membuka pemahaman atau pemaknaan baru maupun inspirasi atas suatu masalah atau fenomena.
Penyajian tidak berkepanjangan, dan menggunakan bahasa populer/luwes yang mudah ditangkap oleh pembaca yang awam sekalipun. Panjang tulisan 3,5 halaman kuarto spasi ganda atau 700 kata atau 5000 karakter (dengan spasi) ditulis dengan program Words.
Artikel tidak boleh ditulis berdua atau lebih.
Menyertakan data diri/daftar riwayat hidup singkat (termasuk nomor telepon / HP dan foto diri), nama Bank dan nomor rekening.  Alamat e-mail opini@kompas.co.id


Kalau Video Ini Beda Lagi


Ketatkah Kriteria Rubrik Kompas itu?

Bagaimana? Apakah kriteria artikel yang diterima Kompas itu menurut anda terlalu berat? Menurut saya, dibilang berat ya memang berat, dibilang wajar ya wajar. Memang tulisan itu harusnya memang seperti itu, dan bisa memenuhi kriteria di atas. Tapi apakah dengan memenuhi kriteria itu, berarti tulisan kita lalu bisa dimuat? Jawabnya? Ya tergantung. Tergantung, kalau tulisan kita itu lebih unggul dari tulisan-tulisan lainnya. Sebab jangan lupa, tiap harinya redaksi pasti menerima artikel dalam julam puluhan hingga ratusan artikel perharinya. Katakanlah tulisan anda sudah bagus, tepat waktu dan menarik. Tetapi kemudian ada pula tulisan lain yang tidak kalah menariknya, dan ditulis oleh seorang “pesohor” atau seorang ahli bertitel professor maka secara logika redaksi bisa dipastikan akan memilih tulisan dari para ahli itu.

Yang ingin saya sampaikan adalah, redaksi juga ingin melihat agar harian mereka memang juga penuh dengan orang-orang ahli, pesohor, selebriti dll yang punya “nilai jual” dan bisa memberikan mereka tambahan prestis.Logika seperti itu bisa diterima, meski dan tentu saja tidak sepenuhnya benar. Ada baiknya, agar dalam riwayat singkat anda cantumkan hal yang spesifik yang berhubungan dengan yang anda tuliskan. Misalnya kalau tulisan itu tentang lingkungan hidup, dan kebetulan anda juga aktifis lingkungan hidup. Makah informasi seperti itu akan jadi nilai tambah bagi anda. Bisa juga, kalau anda sedang mengambil S2 atau S3 cantumkan juga agar bisa menambah bobot tulisan anda.
Halaman 4 Kompas yang memuat Tajuk Rencana dan Opini yang sekarang menjadi Halaman 6, sering dianggap sebagai “Candra dimuka”-nya Kompas. Tempat dimana para pemikir dan praktisi saling beradu argumentasi terkait sesuatu yang tengah jadi bahan perbincangan di tengah masyarakat. Kalau tulisan anda menarik, lugas, cerdas, mengigit  dan pas, tentu mereka tidak akan melihat “latar belakang anda”. Tapi kalau isinya hanya sesuai dengan sesuai dengan teori kepenulisan biasa, maka dapat dipastikan mereka akan melihat “siapa sebenarnya” anda, dan juga membandingkannya dengan tulisan para pakar yang lain.
Kalau anda sudah sering mengirimkan tulisan ke harian Kompas, tetapi mereka belum juga bisa memuat tulisan anda; ada kalanya mereka juga akan mengirimkan  beberapa pointer yang perlu anda perhatikan secara lebih teliti. Berikut adalah  beberapa  penyebab sebuah artikel Anda ditolak oleh Desk Opini Kompas, yaitu:

·         Topik atau tema kurang aktual
·         Argumen dan pandangan bukan hal baru
·         Cara penyajian berkepanjangan
·         Cakupan terlalu mikro atau lokal
·         Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung
·         Konteks kurang jelas
·         Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer
·         Uraian Terlalu sumir
·         Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah
·         Sumber kutipan kurang jelas
·         Terlalu banyak kutipan
·         Diskusi kurang berimbang
·         Alur uraian tidak runut
·         Uraian tidak membuka pencerahan baru
·         Uraian ditujukan kepada orang
·         Uraian terlalu datar
·         Alinea pengetikan panjang-panjang.

Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, menulis di harian Kompas (Surabaya Post, Sinar Harapan) saat ini honornya tidaklah sebesar tahun tahun 70 an. Saya masih ingat waktu itu, untuk artikel kelas Opini mereka memberikan honor mulai dari Rp12000 sampai dengan Rp15000. Sedangkan harian lokal seperti Kedaulatan Rakyat ( Yogya), Pikiran Rakyat ( Bandung), Suara Merdeka( Semarang), Waspada (Medan)  antara rp15000 sampai dengan rp 2000. Harga beras kualitas sedang waktu itu baru Rp 30 per Kgnya. 
Jadi satu tulisan honornya setara antara 400kg sampai 500 kg beras atau dengan harga sekarang setara dengan nilai Rp900000 sampai rp1500000. Sebagai mahasiswa waktu itu, kita hanya butuh satu artikel Utama ( Kompas, Surabaya Post, Sinar Harapan) dan 3 sampai 4 tulisan di Koran lokal. Sekarang? Kompas paling paling hanya menghargai antara Rp300000 sampai dengan 750000 rupiah. Suatu jumlah yang sangat berbeda dengan jaman tahun tahun 70an. Nanti kita sambung lagi.



Sumber: http://www.bukuperbatasan.com/index.php/2016/07/07/penulis-kejar-honor-mau-menulis-di-harian-kompas/



June 22, 2016

7 Rahasia Menulis Artikel Opini Disukai Koran

7 Rahasia Menulis Artikel Opini Disukai Koran


Untuk dapat menulis di media arus utama ini, kita perlu banyak belajar dari penulis lain tentang upaya mereka menembus media massa. Yakni dengan membaca artikel-artikel mereka serta memperhatikan waktu artikel tersebut dimuat.  Salah satu rubrik paling polpuler adalah opini. Banyak penulis profesional begitu antusias menulis di sini. Karena itu, saya ingin mengatakannya, bahwa mencoba kemampuan menulis anda bisa diukur dari sisi ini. Meski demikian bukan berarti sebuah tulisan yang tidak bisa dimuat di suatu kolom Opini Surat Kabar berarti tulisan tersebut jelek. Dalam hal ini ada terpaut soal selera. Tetapi sebagai calon penulis professional hal seperti ini bisa jadi pertanda.




Mampukah anda membuat tulisan dan dimuat di Koran Nasional? Kalau belum. Mulailah berjenjang, urutkan dari Koran kecil di kota anda, kemudian ke kota tetangga dan seterusnya hingga Koran terbaik di negeri ini. Menurut saya ide seperti itu akan mampu menumbuhkan adrenalin kepenulisan anda, dan itu sesuatu yang menarik.
Saya pernah berada pada kondisi seperti itu, tetapi motivasinya berbeda. Waktu tahun-tahun 70 an saat masih mahasiswa di UGM Yogyakarta, saya berjuang hanya untuk bisa menjadi penulis Koran demi mendapatkan honornya. Saat itu belum ada computer, belum ada wifi dan kehidupan Online. Yang ada barulah mesin tik dan Tip Eks sebagai penghapusnya. Di tengah berbagai keterbatasan dan kegiatan perkuliahan, saya melaku kan pelatihan menulis dengan otodidak ( Kisah selengkapnya sobat bisa lihat dibuku saya: Ketika Semua Jalan Seolah Tertutup… Menulis Malah Memberiku Semuanya). Hasilnya setelah enam bulan berjuang barulah satu tulisan saya dimuat di Koran  Dua Mingguan Eksponen di jalan KH Dahlan-Yogyakarta. Senangnya bukan main.
Dua bulan berikutnya, hampir semua Koran nasional sudah menerbitkan artikrl-artikrel saya. Yang Paling melegakan, saya dapat memperta hankan penghasilan honor dari tulisan saya antara 17-35 ribu rupiah perbulannya. Sebagai perbandingan, saya masih ingat anak bupati sahabat saya, yang kostnya di Realino waktu itu wesselnya baru sebesar Dua puluh lima ribu rupiah. Harga beras per Kg memang masih tiga puluh rupiah. Jadi harga satu artikel di harian Nasional seperti Kompas-Sinar Harapan dan Surabaya Post waktu itu bervariasi antara 17,500 sampai 30,000 rupiah atau setara dengan 580 kg-1000 kg beras ukuran sedang, sementara Koran Lokal seperti Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat dan Suara Merdeka bervariasi antara 1500-2500 rupiah. Berkaca dengan pengalaman ini maka menjadi penulis professional adalah soal kemauan dan target yang diinginkan.Jadi kalau anda mahasiswa dan ingin mebiayai kuliah anda dengan hasil honor dari menulis artikel, maka ebook ini perlu anda baca.
 E-Book Gratis Ebook ini Bisa Anda dapatkan Gratis Kalau anda membeli Salah satu Buku Serial Menulis dari Buku Perbatasan: Katika Jalan Tertutup Menulis Malah Memberiku Segalanya, Rahasia Sukses Penulis Preneur, dan 7 Cara Menulis Artikel Yang Disukai Oleh Koran. Emailkan saja bukti pembelian Anda ke : harmenbatubara@gmail.com atau SMS kan ke HP 0818173382 maka kami akan mengirimkan Ebook tersebut ke Anda.

Menulis Ebook ini juga saya maksudkan hanya dengan niat sederhana, bisa membantu para pembacanya untuk bisa menulis Opini dengan lebih baik. Tahu polanya, mengetahui ilmunya dan kemudian menuliskannya. Hanya saja ada satu hal yang harus kita ingat. Anda juga harus terus meng Up datet intelektual anda dengan cara banyak membaca, banyak mendengar para ahlinya dan seterusnya. Sebab tanpa pengetahuan serta intelektual yang memadai nggak mungkinlah Opini yang anda tulis akan menarik bagi para pembaca kalau anda sendiri masih gelap dengan kehidupan ini kan? Jadi memperkuat pengetahuan itu perlu dan memang diperlukan.

June 10, 2016

Penulis Pro Menulis Dengan Hati


Penulis Pro  Menulis Dengan Hati

Mengapa kita harus menulis dengan hati? Mengapa harus melibatkan hati saat menulis. Bukankah menulis itu merangkai kata dan kata, atau apakah saat merangkai kata kata itu lalu kita menghubungkannya dengan hati?  Mari kita coba lihat disekitar kita berapa banyak sampah sampah kertas yang terbuang karena tulisannya, karena isinya tak ingin diingat, tidak berkesan. Atau pergilah ke toko buku, coba amati  berapa banyak buku yang masuk ke toko buku ternama tapi seminggu kemudian masuk ke box buku buku discount dengan label discount 70%.
Sedih juga melihatnya. Padahal penulisannya memerlukan upaya merangkai jutaan kata. Memerlukan bermalam malam bahkan mungkin berbulan-bulan menuliskannya. Bukan sampai di situ saja juga bukan tidak mungkin telah melalui riset yang tidak murah, lama dan melelahkan. Begitu juga dengan editornya;  mungkin sang editor telah bermalam malam begadang serta jelas kurang tidur karena target buku ini harus rampung, harus sudah masuk mesin cetak, dan sudah harus terpajang di toko. Ya banyak sekali buku yang ditulis hanya dengan mengandalkan kata kata, hanya mengandalkan target sesuai kesepakatan atau proposal. Apakah buku itu bisa kita samakan dengan sayur tanpa garam; atau seperti pembuat cake yang gak ngembang; buku yang perwajahannya begitu hambar, membosankan dan memang tidak menarik sama sekali.
Apakah anda setuju kalau menulis dengan hati itu kita sebutkan juga sebagai penulis dengan kemampuan professional?  Memang sih ada juga yang menyarankan agar kalau menulis itu untuk membuat sebuah tulisan yang spesial. Membuat sebuah tulisan yang membuat diri kita dan pembaca lainnya bisa bergetar saat membacanya. Kalau kita lewat ungkapan seperti itu, kita bisa paham bahwa tulisan yang dimaksudkan adalah tulisan terkait kehidupan. Ya kehidupan yang menyangkut siapa saja baik itu hewan, manusia dan seterusnya. Jadi kalau saya perhatikan, yang mereka sebutkan itu menulis dengan hati sesungguhnya adalah menulislah secara professional. Sebab secara logika, tidak mungkin sebuah buku teknik yang terkait dengan prosedur “how to” tentang perawatan mesin kita jadi tergetar dalam membacanya. Tetapi kalau buku teknik itu sudah di susun secara procedural dan professional maka kita dapat mengatakan bahwa penulis buku tersebut sudah berhasil dan sudah sangat professional. Padahal kalau kita lebih peka sedikit saja. Sesungguhnya buku buku seperti itu sudah ada pakemnya. Sudah ada format bakunya. Kalau format itu diikuti secara benar maka akan jadilah ia sebuah buku pedoman atau “guide” yang fungsional dan menarik.
Nah dalam menulis juga begitu.  Semua pengetahuan terkait menulis itu ya harus di pelajari. Ibarat kata nih ye. Kalau membuat tulisan atau artikel ya kita harus tahu dahulu jenis yang mana? Sebab jangan lupa ternyata sebuah artikel itu sangat banyak ragamnya. Ada artikel narasi, eksposisi, argumentasi dll dll Jadi kalau kita berniat menuliskan sesuatu tetapi kita sendiri belum bisa mengklassifikasikan jenis artikel yang akan kita tulis. Maka percayalah, anda akan muter muter saja di sana. Mungkin niat anda mau membuat sedikit ada lelucon, pada hal artikel anda adalah jenis narasi. Ya nggak akan mungkin hidup suasananya. Artinya pengetahuan tentang menulis itu jelas sangat penting. Baru kemudian ketrampilan dalam menuliskannya. Artinya latihan menulis dan menulis.
Memang banyak ahli yang mengatakan kalau ingin menulis ya menulis saja. Tetapi itu bukan berarti anda tidak perlu mempelajari ilmu menulis itu sendiri. Ceritanya bisa begini. Katakan dikampung anda adalah kampung penghasil bambu. Di seluruh desa anda bambu tumbuh dimana-mana. Boleh dikatakan semua warga desa adalah ahli tentang kerajinan dari bahan bambu. Nah kalau demikian ceritranya tentu beda. Sebab secara tidak terasa sebenarnya anda sendiri sudah “ahli” dalam hal perbambuan. Cuma belum trampil. Tapi coba lakukan sesuatu yang berbeda. Coba cari semua buku atau referensi yang terkait dengan bambu dan kerajinan dari bambu, dan kemudian tekuni dan pelajari. Kemudian padukan dengan kegiatan ikut berkarya terkait bambu sesuai dengan kehidupan warga desa anda. Maka percayalah, dalam waktu yang tidak lama. Pastilah anda akan jauh lebih dikenal dan trampil di desa anda.

Nah kalau anda sudah paham dengan ilmunya, dan sudah trampil dengan pekerjaannya maka kalau anda padukan dengan “niatan hati” anda untuk menghasilkan karya bambu yang bermanfaat dan enak untuk dilihat, maka hal itulah yang barangkali disebut banyak orang dengan sebutan berkarya dengan hati. Nah menurut saya menulis dengan hati itu ya tidak jauh beda. Pertama tama pahami dahulu ilmunya. Kemudian latihlah ketrampilan anda lewat latihan dan latihan atau menulis dan terus menulis. Maka pada suatu tahapan anda akan bisa merasakan, bahwa kalau anda mau berkarya dengan hati, maka karya atau tulisan anda akan jadi sebuah karya yang kalau dibaca akan menyenangkan para pembacanya. Kalau anda menuliskan artikel kehidupan, maka anda sendiri dan para pembacanya akan tergetar saat membacanya. Cobalah.