July 15, 2018

Jajal Kemampuan Menjual Produk Clickbank mu Secara Gratis



 Jajal Kemampuan Menjual Produk Clickbank mu Secara Gratis

Tulisan ini saya cuplik dari Buku “Cara Mudah Mencari Uang di Clickbank”, khususnya terkait bagaimana caranya memasarkan produk tersebut ke ratusan media social lainnya, secara mudah dan tidak perlu bayar. Pada tahapan ini anda sudah diberi tahu cara membuat Link Affiliasi di Clickbank dan kini tinggal memasarkannya lewat berbagai media social secara mudah dan menyenangkan.
Sekarang tiba saatnya untuk menguji kemampuan menjual yang ada pada diri Anda. Artinya, anda mau mencoba memasarkan produk dari Clikbank dengan cara sederhana dan tanpa memerlukan biaya ekstra. Artinya anda pada kesempatan kali ini, baru mencoba memanfaatkan berbagai social media yang ada tanpa atau belum memanfaatkan bisnis periklanan. Hal pertama yang perlu anda ingat adalah, bahwa Hoplink atau Link Affiliasi yang anda dapatkan dari Clickbank, belum bisa anda tampilkan di berbagai social media tersebut meski ada juga yang bisa. Misalnya di Twitter. Mari kita lihat seperti apa jadinya.
Pertama anda pergi ke Clickbank.com/Marketplace.htm   maka anda akan sampai di laman ini Dalam tulisan ini tidak dimuatkan gambarnya. Secara lebih jelas anda bisa lihat di Bukunya” Cara Mudah Cari Uang di Clickbank” :
Kemudian mencari produk yang menurut Anda akan laku di jual, kita mencarinya di Segmen E-Business/E-Marketing  kemudian kita pilih produk dengan memakai Sort Results by Graviti maka akan kita dapatkan produk sebagai berikut :
Kita akan mempromosikan produk “ Five Minute Profit Sites - 75% Comm & Bonuses! (view mobile)” dan kemudian Klik Promote maka anda akan di bawa ke :
Kemudian anda Klik tulisan Create nya maka akan keluarlah Link Affiliasi atau Hoplink produk yang akan anda pasarkan tersebut. Jadinya seperti ini :
Cara Buat Hoplink di Clickbank
Setelah Hoplinknya dapat, anda bisa mengambilnya dengan Copy Paste sehingga didapatlah Hoplink atau Link Afliasi nya sebagai berikut :  http://2be76bin06tsnseds2p7s25wa3.hop.clickbank.net/
Nah sekarang coba cari Link tersebut ke Google maka anda akan melihat produk yang akan anda pasarkan tersebut yakni seperti ini :
Nah anda kini sudah bisa melihat produk yang akan anda pasarkan : Masalahnya, kalau Link tersebut anda postingkan di Facebook maka dapat dipastikan Facebook tidak akan mau menerimanya, alias link tersebut tidak akan jadi apa-apa. Begitu juga kalau anda ke Blogger Dll Tapi anda bisa ke Twitter atau tepatnya ke http://www.twitshot.com/ anda tinggal pastekan pada websitenya, maka akan muncullah gambar sbb :
Anda tinggal meng Twit pada Twitter nya maka anda sudah ber iklan di Twitter dengan Iklan lengkapnya sebagai berikut :
Cara buat Iklan Gratis di Twitter
Artinya iklan anda akan muncul di Twitter Anda dengan gambar sebagai berikut. Pada contoh diatas, iklan tersebut langsung saya terapkan di Laman Twitter saya. Gampangkan? Ya sesederhana itulah caranya. Agar Iklan anda muncul pada saat ramai, maka anda juga harus mengunggah iklan anda pada jam-jam di saat orang banyak lagi ramai di Medsos. Misalnya sekitar Jam-jam 10-11 pagi dan pada jam antara 12-13 siang, sesuai dengan waktu setempat atau waktu local. Anda bisa melakukan perubahan gambar dengan mengunggah gambar lain yang menurut anda akan menarik perhatian orang lain; demikian juga dengan kata-katanya rumah di sana sini. Sehingga Iklan yang anda tampilkan terlihat baru dan menyenangkan.
Nah kalau anda mau membuat iklan gratis di berbagai media lainnya seperti ke Tumblr, Blogger, Facebook, LinkedIn Dll maka sebaiknya anda membuat sebuah tulisan sederhana tentang produk yang anda iklan itu di Blogger atau website gratisan. Artinya anda tidak perlu mengeluarkan biaya untuk beriklan tetapi tetap tampil keren dan menarik. Salah satu yang saya sarankan adalah dengan langkah-langkah sebagai berikut. Pertama anda membuat Blog dahulu di Blogger. Tidak perlu bayar. Kemudian anda membuat postingan tentang produk yang anda akan iklankan tersebut. Setelah postingannya di publish atau diterbitkan maka anda bisa mengiklankan postingan tersebut hamper ke semua Medsos, seperti Yahoo, Bing, Google+,Tumblr, LinkedIn Dll hanya dengan memanfaatkan Add to Any nya Google Ekstension. Nah dalam Buku “Cara Mudah Cari Uang di Clickbank” telah diajarkan cara membuat Blogger sampai anda bisa. Sampai disini Anda saya anggap sudah bisa membuat sebuah Blog di Blogger. Sebagai contoh, saya menamakan blog bisnetreseller.blogspot.com atau bisnisusahareseller.blogspot.com Jika Anda membuat blog dengan tujuan mempromosikan produk Anda atau produk afiliasi, maka dalam memilih nama, sebaiknya berisi nama produk atau jasa yang akan Anda tawarkan. Misalnya jika Anda ingin menjual software Vidfuse, Anda bisa memilih kata kunci Vidfuse misalnya jadi Vidfuseviedo.blogspot.com artinya nama produk tersebut jadi bagian dari nama blog anda.
Berikut saya perlihatkan waktu saya mempromosikan produk Traffic Travis. Judulnya saya buat agar lebih menarik menjadi : Traffic Travis Best Keywords Tool for Marketing   tulisan tersebut saya buat di blogger saya : http://affiliatereviewfornewbie.blogspot.com/2018/05/traffic-travis-best-keywords-tool-for.html


 Gambar Iklan di Google+

Nah dalam postingan ini sudah saya masukkan Hoplink atau Link Affiliate saya. Artinya akalau para pembacanya senang dan kemudian melakukan pembelian lewat Link saya, maka saya akan dapat komisi. Gampang kan?
Lalu bagaimana caranya agar Postingan atau Iklan terselubung ini bisa di muat di berbagai Medsos lainnya? Gampang. Taroh kursor computer anda pada body tulisan yang ada di blog anda tersebut lihat gambar. Klik kanan Mouse nya, maka akan terlihat tulisan Add to Any…dan diujungnya anda akan menemukan ratusan Media Sosial yang bisa anda kirimkan tulisan anda. Jadi anda tinggal memilih media social yang mana yang anda suka. Misalnya Facebook maka yang perlu anda lakukan Copy bagian dari tulisan anda yang paling menarik, kemudian klik kanan Mouse nya lalu pilih media sosialnya; misalnya Google+ maka ia akan muncul sebagai berikut :
Enak sekali kan? Ya lah Iklan anda akan dilihat banyak orang, kalau anda melakukannya pada waktu yang tepat. Hal seperti ini dapat anda lakukan ke ratusan Media social lainnya. Asal anda memang mempunyai akun di Media tersebut. Misalnya di Facebook, ya anda harus punya akun Facebook. Demikian juga di Twitter, di LinkEdIn, Tumblr, Google+ Dll. Saya juga produk dalam bahasa Indonesia, misalnya Jual Buku Formula Gaptek, caranya sama dengan yang telah kita jelaskan diatas, dan hasilnya jadi seperti ini :

 Gambar Formula Gaptek di Google+

May 14, 2018

Aroma Doa Bilal Jawad


Ilustrasi oleh  Anton Susanto
Oleh Raudal Tanjung Banua

Apakah doa punya aroma? Setiap kali pertanyaan ini datang menggoda, aku akan teringat seorang tukang doa yang setia di masa kecilku. Entah mengapa, tiap kali mengingatnya, lafaz doa serasa bangkit bersama aroma yang membubung dari hidung ke dalam batin. Adalah Bilal Jawad, lelaki setengah baya yang sudah dianggap sebagai tukang doa keluarga di kampungku lantaran kesetiaannya mendatangi kami pada hari baik bulan baik. Ya, sepekan menjelang bulan puasa, Bilal Jawad akan datang ke kampung kami. Ia tiba selepas siang, dan kembali semalam-malam hari ke rumahnya di kampung lereng bukit. Sebenarnya dia berasal dari kampung kami juga, tetapi menikah di kampung sebelah. Bahkan, ia termasuk kerabat ayahku, karena itu aku dan adikku memanggilnya Pak Uwo.
Di kampung istrinya, ia dipercaya sebagai bilal. Suaranya lengking dan panjang, pas belaka dengan keadaan kampung yang berbukit-bukit. Karena itu, tugasnya sebagai muazin tak tergantikan. Nah, di antara itu, Bilal Jawad punya tugas yang juga tak tergantikan di kampung kami: memimpin doa menyambut Ramadhan!
Sudah menjadi kebiasaan di kampung kami menyambut Ramadhan dengan cara menggelar doa di tiap rumah. Ada beberapa tukang doa yang bisa kami panggil, tetapi yang paling akrab Bilal Jawad. Tinggal menyesuaikan jadwal, maka setiap rumah mendapat giliran didatanginya. Kami akan memasak yang enak-enak: rendang, gulai ayam, goreng itik, kalio jengkol, ikan panggang. Semua itu dihidangkan sehabis berdoa.
Bilal Jawad mencatat jadwal tahunan itu dengan rapi, buktinya tak sekalipun ia alpa atau lupa. Boleh jadi karena ia sekalian berziarah ke makam orangtua, menjenguk kerabat dan menengok rumah kelahirannya. Di rumah yang ditempati keponakannya itulah ia beristirahat, sembari menunggu panggilan memimpin doa.
Ia akan datang ke rumah orang yang memanggilnya dengan naik sepeda ontel. Ia kenakan peci beludru, celana panjang katun serta kemeja lengan panjang. Meski bukan bahan yang mahal, tetapi rapi terawat. Dan, lebih dari itu menjadi penampilannya yang khas.
Dia biasa mengunjuk salam sejak dari halaman disertai dentang lonceng sepeda tiga kali. Bila salam berjawab salam, maka naiklah ia ke atas rumah, duduk di tikar pandan, tempat ia bersiap memimpin doa.
Ia akan bertanya kepada si tuan rumah, apa-apa hajat hendak disampaikan, buat siapa doa dikirimkan. Tuan rumah akan berkata, ini doa hari baik bulan baik, semogalah lancar segala ibadah, didatangkan berkah bagi seisi rumah. Terucap pula nama-nama yang sudah tiada, almarhum-almarhumah, jika sempit kuburnya mohon lapangkan, jika gelap minta terangkan. Lalu harapan supaya anak-anak lancar bersekolah, padi di sawah jauh dari hama, mereka yang di rantau bisa pulang berlebaran tahun ini dan berbagai pinta lagi.
Demikian halnya Bilal Jawad, ia sangat bertanggung jawab. Ia menyambut permintaan dan harapan itu dengan air muka yang yakin. Katanya, Allah Azza Wajalah menyuruh hamba berdoa, dan Dialah Maha Pengabul Segala Pinta. Si tuan rumah serentak menyambut, ”Aaamiiiin..!!” bahkan sebelum doa dimulai.
Bilal Jawad membawa kemenyan sendiri di dalam saku celananya—bentuk tanggung jawabnya yang lain. Jika tuan rumah lupa atau sedang tak punya, ia akan mengeluarkan kemenyan simpanannya itu tanpa diminta. Ke dalam bara api di atas loyang, kemenyan dibubuhkan, maka membubunglah asapnya yang wangi mengiringi doa ke langit tinggi.
Bacaan doa Bilal Jawad sangat fasih. Sayup dan terang ganti-berganti, seolah kata-kata suci itu telah terbang menjauh meninggalkan kami yang duduk bersila, tetapi lalu kembali lagi ketika lafaznya dikeraskan. Doa yang dirapalnya terbilang panjang dan lengkap, ibaratnya dari A sampai Z. Setengah bergurau, orang kampungku biasa berkata, ”Berdoa bersama Bilal Jawad serasa doa setahun diringkas satu hari, semua permintaan ada.”
Setelah doa selesai, dilanjutkan makan bersama. Seketika denting piring dan gelas menggantikan keheningan. Namun, Bilal Jawad makan ala kadarnya, sebab ia akan makan di tiap rumah. Jika sehari ia datangi empat atau lima rumah, maka berapa piring makanan yang harus ia habiskan? Karena itu, ia mengatur porsinya sedemikian rupa, sebab jangan sampai pula di satu rumah ia tak makan. Bisa kecil hati si tuan rumah. Membesarkan hati orang lain itu baik. Toh sisa makanan enak-enak itu selanjutnya akan kami gasak adik-beradik.
Sebelum turun jenjang, ayah-ibu kami biasa menyelipkan lembaran uang ke tangan Bilal Jawad, juga ala kadarnya. Ia ucapkan terima kasih sambil memasukkan uang itu ke dalam kantong celananya, kantong yang sama tempat ia menyimpan kemenyan.
Konon, uang yang disimpan di kantong celana Bilal Jawad bukan saja ikut berubah wangi, tetapi juga dianggap membawa berkah. Entah siapa yang memulainya. Boleh jadi awalnya dari gurauan, tetapi lambat-laun membesar dan diyakini, terutama kalangan anak-anak. Seperti kami yang selalu membayangkan aroma uang yang keluar dari sakunya. Kami senang mengendus-endus uang kertas yang kami miliki. Mana tahu beraroma saku Pak Uwo.
Maka, ketika tercium bau wangi, aku berteriak, ”Uang Bilal Jawad!”
”Uang Pak Uwo!” kata adikku membetulkan kelancanganku.
”Ya, Pak Uwo Jawad,” ulangku.
Kami berebut menciumnya. Namun, ternyata bau rokok pertanda uang itu dari saku ayah. Atau bau rampai pertanda ibu menyimpan uang itu di balik bantal. Ini menambah rasa penasaran kami untuk memburu uang dari saku sang Bilal.
Sepanjang petang hingga malam, Bilal Jawad bisa berdoa di atas tiga hingga lima rumah. Ia akan diberitahu jadwal berdoa terlebih dahulu oleh keluarga yang mengundangnya. Bilamana tiba giliran kami mendoa, maka tugasku memberitahu Pak Uwo.
Lebih sering ia kudapatkan di belakang berkeliling melihat pohon kelapa peninggalan orangtuanya. Kadang membersihkan beluntas, membetulkan pancang kedondong, mengasah pisau, atau memperbaiki payung. Itu cara dia mengisi waktu. Kalau aku datang, ia akan mengusap kepalaku dan kurasakan ada berkah terselubung menaiki puncak ubunku.
Ia bertanya bagaimana sekolahku. Rasa simpatinya membuatku bisa tanpa beban bercerita bahwa aku senang pergi ke muara tempat berlabuh kapal ikan. Aku memungut ikan yang tercecer, meski Paman Markis—Pak Uwo-ku yang lain—sering memarahiku.
”Tujuan Paman Markis-mu baik,” katanya. ”Kalau kau sudah merasakan uang dari menjual ikan, kau tak akan mau sekolah. Kau akan mencari ikan terus, mencari uang terus.”
Nasihatnya sejuk. Bau ikan di muara tiba-tiba terasa menusuk hidungku, membuatku tak mau lagi ke muara. Padahal, sebelumnya Paman Markis selalu gagal mencegahku.
Suatu hari menjelang bulan puasa, entah tahun berapa dari masa kanakku, aku menjemput Pak Uwo Jawad lagi. Kali itu aku menemukannya sudah berpakaian ”dinas” dan bersiap menuntun sepedanya. Karena itu, ia mengajakku sekalian boncengan.
Aku bilang ibu pasti belum siap. ”Tadi kata ibu berdoanya habis magrib, Pak Uwo. Sekarang gulai ibu belum masak.”
Pak Uwo tersenyum. ”Tak mengapa, kita berdoa dulu ke rumah yang lain. Kau, kan, sudah memakai celana panjang,” katanya.
Memang, bila menjemputnya aku selalu disuruh ibu berpakaian rapi, bahkan memakai peci. Kata ibu, selain menghormati orang yang akan memimpin doa, itu bisa membawa berkah. Dan, ibu benar. Buktinya aku diajak Pak Uwo berdoa ke rumah yang lain.
Kami melaju di atas sepedanya menuju rumah Etek Marianis. Sepanjang jalan aku menghirup aroma yang wangi dari punggung baju Pak Uwo. Jiwaku serasa membubung. Kucari-cari aroma yang pernah hinggap di hidungku. Tetap saja aku merasa tak ada aroma yang menyamainya. Itu campuran menyan, asap, bahkan keringat di lengan baju yang bersitahan mengulurkan telapak tangan ke langit.
Belum habis rasa senangku menghirup aroma punggungnya yang agak bungkuk, laki-laki itu sudah menghentikan laju sepeda. Ia bunyikan lonceng tiga kali.
Teng! Teng! Teng!
Dari halaman rumah Etek Marianis yang luas, ia sebar salam ke arah jenjang. Etek Marianis tersenyum manis menyambut kami. Dia sudah tahu bahwa aku anak Si Anu dan ponakan Bilal Jawad, jadi tak ada pertanyaan apa-apa saat ia melihatku.
Kami langsung masuk dan duduk di tikar pandan. Seperti biasa, sebelum berdoa, Etek Marianis menyebut harapannya. Selain menyambut bulan puasa dan mengirim doa untuk leluhur, ia juga berharap suaminya yang masih di Malaysia bisa pulang sebelum Lebaran.
Aku ucapkan ”Aaamiiinnn…” dengan suara keras, seolah menyatakan bahwa diriku ada bersama pemimpin doa. Pak Uwo-ku!
Karena Etek Marianis tak punya kemenyan, maka Pak Uwo mengeluarkan kemenyan dari sakunya. Kemudian ia taburkan ke atas bara di loyang. Dan, begitu bara ditiup, asap membubungkan aroma yang tak terkatakan. Urat sarafku berdenyar. Dadaku penuh. Waktu terasa singkat. Mataku terpejam, dalam, dalam….
Aku baru tersadar ketika seisi rumah bilang ”Aamiiiin…” dan tuan rumah mempersilakan kami makan.
Pak Uwo dipersilakan menyanduk nasi lebih dulu. Nasi putih dari beras baru, wangi dan pulen. Pak Uwo menaruh sepotong ikan kakap di piringku. ”Kau suka ini, kan?” katanya.
Aku mengangguk.
”Makan yang kenyang, Kudal,” kata Etek Marianis. Gulai ikannya enak, tetapi aku malu-malu, apalagi Pak Uwo makannya sedikit dan mencuci tangan lebih dulu.
”Di rumah nanti juga mendoa, Tek,” kataku.
”O, mintalah supaya cita-citamu tercapai, Nak,” kata Etek Marianis lagi.
Selesai makan, kami lalu pamit, pindah ke rumah yang lain.
Dan, begitu pula: berdoa, makan, pergi.
Hanya di rumah yang ketiga, si tuan rumah menganggap aku anak Pak Uwo. Dia memang orang baru di kampungku, meskipun beberapa kali diundang berceramah dan mengisi pengajian di kecamatan. Namanya Baihaqi, usianya separuh usia Pak Uwo. Ia orang kota yang menikah dengan perempuan kampung kami, Maryanti, yang pernah kuliah di kota provinsi. Wajar Om Baihaqi tak tahu siapa aku, bahkan Uni Mar pun lupa padaku. Mereka baru pindah setelah ibu Uni Mar meninggal menyusul sang ayah, kemudian mereka melanjutkan usaha keluarga membuat kerupuk ikan.
Di rumah ini pula, untuk pertama kalinya aku bertemu tuan rumah yang menolak membakar kemenyan, meskipun Pak Uwo bilang, ”Ini sekadar harum-haruman.”
Baihaqi bergeming, sambil bergumam, ”Bagaimanapun, kami takut bidah, Engku.”
Pak Uwo hanya tersenyum, dan tentu saja doa tetap lancar. Entah dalam hatinya ada yang mengganjal, aku tak tahu. Untuk mencairkan suasana, selesai berdoa, Om Baihaqi memberi kami kerupuk ikan. Sebelum melaju, kerupuk itu kami gantung di setang sepeda. Lalu Pak Uwo bersenandung sepanjang jalan, yang kelak kuketahui itu selawat nabi.
Rumahku yang keempat didatangi Pak Uwo hari itu. Sebelum membunyikan lonceng sepeda, ia rogoh saku bajunya. Selembar uang seribuan ia keluarkan. ”Ambil,” katanya.
Aku terkaget takjub mendapatkan uang keberuntungan langsung dari Sang Bilal. Meski bukan dari saku celana tempat kemenyannya tersimpan, tetapi apa bedanya? Seluruh pakaian dan tubuh pendoa seperti Bilal Jawad bagiku sama diselubungi aroma doa.
Aroma itulah yang selalu menggodaku di rantau orang, setiap memasuki bulan Ramadhan. Ya, sudah bertahun-tahun aku hidup merantau, sudah banyak aroma kucium di tengah doa-doa yang dipanjatkan. Aroma setanggi, harum lilin, hio, dupa, dan bunga-bunga. Di antara semua itu, aroma doa Bilal Jawad tak pernah padam, tak lampus diterkam waktu.
Karena itu, aku bergembira kali ini sebab berkesempatan pulang menyambut bulan puasa, sekalian menjenguk ayah-ibuku yang sudah tua. Aku akan berdoa bersama mereka, dipimpin tukang doa kami yang istimewa.
Namun, betapa aku kecewa mendengar kabar dari adikku. ”Sudah lama Pak Uwo tak memimpin doa,” katanya.
”Kenapa begitu?” tanyaku heran. ”Kurasa ia masih kuat menggayuh sepeda…”
Adikku menjelaskan bahwa Bilal Jawad sudah tidak diperkenankan membakar kemenyan saat berdoa setelah Ustaz Baihaqi diangkat jadi imam-khatib yang baru di kampungku. Bagi Bilal Jawad soalnya tentu bukan sebatas larangan itu, tetapi menyangkut harga diri. Entah cara yang ia terima menyinggung perasaan, merasa dipaksa atau yang lain.
Yang jelas sejak itu ia tersisih atau menyisihkan diri di kampung lereng bukit. Namun, aneh, mendengar kabar miring itu, lafaz dan aroma doa Bilal Jawad tiba-tiba membubung di pucuk hidung dan menyusup ke dalam batinku. Sejuk mewangi. Menyepuh langit tinggi.

Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumbar, 19 Januari 1975. Buku cerpennya antara lain Ziarah bagi Yang Hidup (2004) dan Parang tak Berulu (2005). Mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia di Yogyakarta.

Ilustrasi Cerpen, karya Anton Susanto, kelahiran Bandung, 17 Desember 1979. Studio Lukis Departemen Seni Murni FSRD ITB, Bandung. Pameran yang diikuti antara lain ”Banjir”, Bandung (2018) Bandung Drawing Festival (2017)
Simber : Kompas.id, 13 Mei 2018



May 7, 2018

Laki-laki Yang Kawin Dengan Babi

Ilustrasi karya Hadi Soesanto
Setahun silam, menjelang lingsirnya matahari, saat ia memangkas dahan-dahan johar yang tersampir ke atap rumah, seekor babi berlari dari arah utara dan menyeruduk kaki tangga kayu yang ia tunggangi. Tangga kayu itu bergeser beberapa senti, hampir roboh, dan membuat beberapa genting paling tepi lengser dan jatuh ke tanah, berkeping. Seekor babi berwarna kelabu, nyaris hitam, tampak kebingungan, berputar-putar di pekarangan. Mungkin kepala babi itu sedikit pening setelah menabrak kaki tangga.
Ia menuruni anak tangga itu lekas-lekas, takut kalau babi itu kabur. Dengan tangan kanan masih menggenggam arit, dan tangan kiri mencengkeram sempalan dahan johar—yang masih memancarkan bunga-bunga warna kuning menyala, ia menggiring babi itu ke sudut pekarangan. Hendak menangkapnya. Dan babi itu, ia tak menampakkan tanda-tanda akan kabur. Justru ia melenggang tenang, seolah merelakan dirinya ditangkap.
Langit sudah terlanjur remang. Sebab babi itu, ia lupa membereskan dahan-dahan johar yang berserak di teritis rumah. Ia memburu babi malang itu dan menangkapnya. Babi itu menguik. Bagai mengatakan sesuatu. Seekor babi betina yang gemuk, pikirnya. Ia mengira, babi itu telah berlari tanpa henti dari arah hutan, lalu menggasak ladang ubi, dan baru berhenti setelah menubruk kaki tangga yang dipijaknya. Pasti sesuatu tengah mengejarnya. Ia membopong babi itu ke teritis belakang rumah. Ia menatap babi itu penuh rasa haru. Seakan kasihan, atau bahagia mendapatkan semacam berkah berupa babi betina yang gemuk.
Ia memasukkan babi itu ke kandang ayam, lantas silih memindahkan ayam-ayam ke kurungan buluh. Dari dalam rumah, ibunya yang kelewat tua, berjalan pincang dan terbungkuk-bungkuk, berteriak-teriak, ”Apa yang kau lakukan di belakang magrib-magrib begini?”
”Mengandangkan ayam,” balasnya.
Dari balik pintu dapur, meski agak rabun, perempuan tua itu masih bisa melihat lima ekor ayam berkokok ribut dikurungkan menjadi satu.
”Kenapa ayamnya ditaruh di kurungan, bukan di kandang?” perempuan tua itu memprotes.
”Di kandang ada babi, betina,” singkatnya.
Ibunya yang kelewat tua itu begitu jengah dengan segala tindak-tanduk bujangnya yang tambun, pengangguran, dan tak laku kawin. Usianya sudah hampir 40, dan ia masih seperti bocah belasan tahun. Ia waras, dan ia normal. Masih suka menyinggung anak gadis tetangga yang berparas cantik, juga memajang gambar-gambar artis yang ia potong dari koran dan majalah bekas di dinding kamar. Tapi ia tak juga berangkat menikah. Sejak dulu, ia memang tak menampakkan gejala-gejala ingin menikah. Ia tak pernah dekat dengan gadis mana pun, dan tak ada gadis mana pun yang berniat dekat dengannya. Mungkin sebab itu.
Di antara rambutnya yang mulai beruban, ia masih suka dan akan selalu suka nongkrong dengan remaja belasan tahun di mana saja, bermain gitar, gaple, pergi menonton pertunjukan. Bahkan, tak jarang, ia masih suka pergi ke lapangan untuk menyoraki bocah-bocah cilik bermain bola, layangan, atau gundu. Sedangkan rata-rata kawan sebayanya telah menggendong orok dan pergi mengajak anak-anak mereka beli kembang gula, baju-baju lucu, atau mainan.
Para tetangga menganggapnya sebagai bocah yang mengidap keterbelakangan, tapi ibunya yang aroma tanah itu tidak pernah sepakat. Di mata ibunya, ia tetap sosok lelaki yang bisa menjadi gagah, yang pantas menikah, memiliki anak, dan bekerja sebagaimana lelaki dewasa pada umumnya. Selalu saja ada angan-angan berkelebat di kepala perempuan kelewat tua itu, angan-angan yang tak pernah berganti dari tahun ke tahun, sampai tubuhnya kisut dan menua seperti itu. Sebuah kenyataan, bahwa anak lelakinya telah menjadi perjaka tua, tidak pernah diterimanya. Setiap kali ada tetangga atau kerabat berkunjung, atau sekadar lewat muka rumah, ia selalu mencegatnya, lalu bertanya apakah ada gadis di luar sana yang belum menikah, atau sudah menikah tapi menjanda, kalau ada tak ada salahnya dikenalkan pada bujangnya yang seorang itu. Bujangnya anak yang baik lagi penurut. Barangkali cocok. Barangkali jodoh.
Terlampau tuanya ia, mungkin nyaris pikun, ia kerap tak peduli kalau pertanyaan dan pernyataan semacam itu sudah ia lemparkan ke puluhan orang yang sama sebanyak puluhan kali, dari waktu ke waktu. Dan tak seorang pun berminat mendatanginya untuk bertanya perihal anak bujangnya itu. Sampai pada lingsir itu, ia benar-benar menyerah sampai ke alam bawah sadar. Menyerah pada usia, menyerah pada lupa, menyerah pada tanah.
Selepas bujangnya bilang, di dalam kandang ayam ada babi betina, ia melontarkan kata-kata di ambang sadar, serupa doa (atau kutuk?), ”Nikahi saja babi betina itu!” dan selepas itu, ia terpeleset di muka pintu dapur, tak bisa bangun selama hampir seminggu, lalu mengembuskan napas terakhir, dengan ingatan timbul tenggelam, bahwa bujangnya yang seorang itu sudah menikah dan hidup bahagia. Entah menikahi siapa. Menikahi anak gadis tetangga, menikahi seorang janda, atau barangkali menikahi seekor babi betina.
Selepas ibunya yang dijangkiti kepikunan itu meninggal, ia tinggal seorang diri di rumah yang dari hari ke hari makin berselengkat, seperti rumah tanpa penghuni. Karena tak ada yang melarang, ia mulai mengandangkan ternaknya di dapur. Lima ekor ayam dan seekor babi betina. Dari binatang-binatang itulah ia meminta makan. Ayam- ayamnya yang dua ekor jantan, kadang ia bawa ke pasar untuk diadu taruhan. Kadang ia menang dan kerap ia kalah. Sedang tiga ekor yang lain, betina, dan rajin bertelur. Satu di antaranya malah sudah mengerami telurnya. Selain untuk dibabarkan, ia menjual  telur-telur itu buat jamu, sebab, konon telur ayam kampung bagus buat jamu dan harganya lebih mahal dibanding telur ayam petelur.
Para tetangga tak begitu peduli, tak ada yang berminat datang ke rumahnya lagi semenjak ibunya tak ada, kecuali untuk membeli telur ayam kampung sesekali. Saat para tetangga mampir ke rumah untuk membeli telur itulah, ia mengoceh panjang perihal babi betina yang mendatanginya beberapa waktu silam itu. Ia bilang, babi itu adalah babi kiriman Tuhan. Babi betina itu pandai sekali, tidak pilih-pilih makanan, kalau berak bisa pergi ke kakus sendiri. Dan babi itu tampak begitu lucu mengenakan kebaya hijau pupus milik mendiang ibunya. Dan lagi, semenjak kedatangan babi betina itu, ayam-ayamnya semakin rajin bertelur.
Orang-orang tak pernah menggubris omongannya. Kedatangan mereka hanya untuk telur ayam kampung. Sudah. Yang lain tak usah digubris. Isi kepala orang idiot memang bisa macam-macam, pikir mereka.
Dari hari ke hari, menyundul bulan, ayam-ayamnya semakin babar. Dan rumahnya semakin gondrong oleh semak dan dahan-dahan pohon yang tak pernah dipangkas. Setelah ibunya meninggal, tak ada lagi yang menyuruhnya memangkas dahan pohon. Dan ia sendiri tak berminat berurusan dengan selain ayam-ayam dan seekor babi.
Sebuah kabar ganjil datang dan menyebar kemudian, ketika seorang tetangga datang membeli telur dan melihat babi betina itu telah menyusui delapan anak babi. Merah, mungil, mendekam, dan berdesakan. Maka seperti bau, warta itu menyebar dibawa angin dari satu mulut ke dua mulut lalu ke puluhan mulut dan seterusnya.
”Babi itu cuma seekor, betina pula, bagaimana ia bisa hamil dan beranak pinak?”
”Betul juga, tentu tak mungkin babi betina kawin dengan ayam jantan, apalagi mengawini diri sendiri.”
”Kalau begitu sudah jelas,
siapa ayah babi-babi kecil itu.”
”Siapa?”
”Babi lain yang ada di rumah itu!”
”Ya Tuhan, bencana apa lagi yang bakal menimpa kampung ini!”
Semenjak babi betina itu memiliki anak, para tetangga tak sudi lagi membeli telur ayam kampung padanya. Walhasil, ayamnya kian membiak, dan rumahnya benar-benar telah menjelma kandang ternak. Anak-anak babi menguik di mana saja. Anak-anak ayam berkeriap di bawah-bawah kursi, tahinya menghiasi lantai dan meja. Menguarkan aroma busuk tiada pemanai. Di mana-mana.
Bersamaan dengan gencar-gencarnya berita itu, kemarau datang, bagai mengaum. Memberangus hari-hari. Menanduskan ladang dan segala apa yang dijunjungnya. Burung-burung pemakan gabah datang berombongan, bagai wabah, meludeskan padi-padi kurus yang urung dipanen. Dan orang-orang kembali bergunjing, menyalahkan lelaki itu dan babi-babinya. Kampung ini pasti sudah dikutuk, sebab ada manusia bejat yang mengawini babi. Kita harus singkirkan setiap bentuk kezaliman. Mari serukan nama
Tuhan. Untuk menghilangkan bala, mereka harus dihukum, dirajam, dimusnahkan, atau diusir dari kampung ini.
Pada malam yang telah disepakati, warga  berurung menjadi satu, melabrak rumah bau di pinggir ladang ubi itu. Ia yang tak tahu apa-apa, muncul dari balik pintu sambil membopong anak babi yang berkemul sarung. Tubuhnya masih tambun, dan tampangnya kelewat naif. Persis makhluk yang digendongnya. Orang-orang menggertaknya, semula ia hanya mesem, namun teriakan-teriakan itu membuat nyalinya ciut. Lebih-lebih, ketika beberapa orang mulai meringsek keluar masuk rumahnya. Menggebrak pintu, menendang kursi dan meja. Membuat ternak yang tidur malam berhamburan.
Ia tak begitu paham, apa yang sebenarnya diinginkan orang-orang itu. Ia semakin tak paham, ketika orang-orang itu menutup pintu serta jendela rumahnya dari luar, lantas menyodorkan oncor dan menjentikkan api pertama.
Rumah itu mulai dijangkiti api. Dan ia hanya bisa menangis, meronta-ronta di antara cengkeraman orang-orang. Anak babi di tangannya terlepas dan kabur entah ke mana. Ketika api mulai membesar, merambati dinding dan atap rumah, ia menjerit-jerit. Menggelongsor di tanah. Berguling-guling. Seperti bocah cilik yang direbut mainannya. Ia tak sampai hati membayangkan babi-babi dan ayam-ayam kesayangannya itu berlari kalang kabut, kepanasan, dan sesak oleh asap. Ia tak kuasa membayangkan binatang-binatang lucu dan tak berdosa itu bakal terpanggang hidup-hidup.
Di atas rumah yang terbakar itu, langit hitam menjadi merah. Sementara, teriakan orang-orang kian meraja, menyerukan nama Tuhan berulang-ulang. Di antara gumpalan asap yang melambung, bergulung-gulung, ia seperti melihat begitu banyak gambar. Babi-babi yang beterbangan, ayam-ayam yang meluncur, juga wajah marah ibunya.
Mashdar Zainal, lahir di
Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi
serta prosa. Tulisannya tepercik di berbagai media. Cerpennya beberapa kali masuk dalam Kumpulan Cerpen PilihanKompas. Kumpulan cerita terbarunya, Lumpur Tuhan, Pemenang Sayembara Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur, 2017. Kini bermukim di Malang.
_____________________
Hadi Soesanto, lahir di Jember, 25 Mei 1968, menetap di Yogyakarta. Pertama kali berpameran tahun 1989 di Galeri DKS, Surabaya. Kini, ia acap kali mengikuti residensi di luar negeri. Pernah menjadi Top Five Indonesia Art Award VI.
Sumber : Kmpas.id, 6 Mei 2018

March 19, 2018

Tiga Buku Best, Menjadikan Anda Penulis Profesional




Tiga Buku Best, Menjadikan Anda Penulis Profesional
Tiga buku ini sejak awal sudah di desain untuk menjadikan Anda Penulis Profesional. Buku yang cocok sebagai bekal awal bagi melahirkan seorang penulis sederhana tapi profesional. Penulis yang mampu menjadikan penghidupan dari kepenulisan. Penulis yang disamping punya talenta menulis perlu juga bekal Cara menulis yang benar.
Buku Pertama, Ketika Jalan Terutup Menulis Malah Memberiku Segalanya. Adalah kisah tentang seorang mahasiswa yang terjebak dan nyaris berhenti, ketika ia tidak punya uang untuk kuliah. Tanpa bakat, tanpa kemampuan menulis-tetapi malah bertekat menjadikan menulis sebagai usaha untuk membiayai kuliahnya. Padahal pada zaman itu, belum ada computer, semuanya bagai tulis tangan lewat Mesin Tik. Kalau salah harus di Tip Ex dan tulisannya diulang kembali. Tetapi dengan semangat dan ketekunan serta latihan-latihan-dan latihan sampai ahirnya ia bisa jadi penulis di Koran harian dimana-mana. Diujung perjuangannya-mahasiswa itu malah dapat menjadikan dirinya penulis kampus serta jadi penulis lepas sebagai sumber kehidupannya dan malah penghasilannya mampu melebihi wesel bulanan dari para temannya yang kebetulan jadi anak Bupati. Itu kisah riel, karena saya sendirilah pelakunya. Buku ini mengalir dari pengalaman pribadi dibekalkan dengan berbagai ilmu lain untuk memperkuatnya.
Buku kedua Rahasia Sukses Penulis Preneur adalah buku yang membekali anda untuk mentransformasi kemampuan menulis tradisional,menjadi penulis di era Life Style Dot Com. Bagi penulis yang masih asing dengan berbagai gadget dunia Online buku ini cocok buat anda; Penulis Life Style Dot Com, penulis yang dapat memanfaatkan media Online jadi ladang kepenulisan baru-seorang penulis yang diberi bekal untuk bisa membuat website-mulai dari nol hingga websitenya bisa muncul di halaman pertama mesin pencari Google- juga dia diberi bekal untuk memanfaatkan media social seperti Facebook-twitter-Trumbl-Linkedin-Pin It-Stmble Upon-Google + dll. Penulis yang diberi bekal untuk mencoba sedari awal membangun brand nya sendiri. Sampai ia bisa menjadi professional dalam kepenulisannya. Menurut saya , sungguh sebuah buku yang penuh dengan berbagai ilmu dan ketrampilan yang diperlukan oleh seorang penulis di era Lifestyle Dot Com.
Buku ketiga,7 Cara Menulis Artikel Yang Disukai Oleh Koran adalah buku pembekalan yang baik dan teruji untuk berhasil memasarkan tulisannya di berbagai media masa khususnya Koran. Buku yang memperlihatkan bagaimana cara-cara yang cerdas dan efektif untuk bisa menjadikan anda sebagai seorang penulis professional di Koran-koran harian-mingguan atau majalah bulanan. Cara-cara yang sudah teruji dan dilakukan oleh para ahli dalam menulis. Dengan berbekal buku ini; saya yakin anda akan jadi penulis handal, yang tulisannya pasti di senangi oleh para pemimpin redaksi Koran koran yang tulisan anda akan kirimi. Para sahabat atau siapapun anda-dengan berbekal ketiga buku ini sejatinya telah lebih dari cukup untuk menghantarkan anda menjadi penulis bersahaja yang disenangi oleh para pembacanya. Dan dibalik semua itu, anda juga akan bisa menjadi seorang penulis yang sepenuhnya bisa menghandalkan hidup dari menulis.

January 12, 2018

Rahasia Menjadi Seorang Penulis, Kisah Ketika Semua Jalan Seolah Tertutup





Rahasia Menjadi Seorang Penulis, Kisah Ketika Semua Jalan Seolah Tertutup

Pernah dengar dengan istilah tentang anak batak di perantauan kan? Batak tembak langsung. Tapi ini untuk setting ceritra tahun tahun 70an. Itu menurut saya adalah upaya untuk menggambarkan anak-anak batak yang di kampungnya sana, dia dengan segala keterbatasannya. Dia yang aslinya belum tahu apa-apa, dia yang tidak tahu apa itu universitas, apa itu aturan lalu lintas jalan; tidak tahu mana saatnya stop dan mana saat jalan ketika melihat lampu setopan “abang-ijo” di jalanan. Tetapi semua itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk melanjutkan kuliah ke Jawa. Banyak dari mereka yang kondisi orang tuanya, sungguh tidak memungkinkan untuk membiayai kuliahnya. Tapi anak-anak batak itu tetap nekad. Saya salah satu diantaranya. Saya waktu itu, hanya berbekal uang sebesar 15 ribu rupiah dengan kesanggupan orang tua biaya bulanan satu ribu perbulan, dengan tujuan  Yogyakarta. Ongkos kapal waktu itu sudah 6 ribu, uang daftar di UGM 3 ribu. Belum lagi ini itu, jelas membaginya tidak bisa atau sangat sulit sekali.

Tapi itulah jalannya kehidupan, panggilan suratan tangan. Sesungguhnya kisah itu sendiri jauh lebih menarik kalau dituliskan dengan hati. Bagaimana anak kampung dengan semua ke idiotannya menapaki hidup di kota besar metropolitan. Umumnya  teman-teman meski tetap terbatas, tetapi umumnya punya uang bulanan bervariasi, antara 15-25 ribu perbulan. Tapi hal itu sama sekali tidak memberi pengaruh. Saya bersyukur karena meski dengan berbagai keterbatasan itu, ternyata saya diterima kuliah di UGM. Saat itu sebuah pencapaian luar biasa. Tetapi dengan uang satu ribu rupiah perbulan jelas ini sebuah tantangan. Oh ya, waktu itu harga beras per Kg baru Rp 30. Tantangannya nyata dan sungguh luar biasa.
Saya sendiri punya jurus kehidupan langka tapi hemat saya pas. Misalnya dalam mencari tempat Kos, carilah di wilayah kota yang tidak ada listriknya. Maksudnya agar segalanya lebih terjangkau dan murah. Lokasi itu saya temukan, yakni di Gondolayu, pinggir kali Code. Memang kondisinya kumuh, dan tempat mandinya juga di sumur-sumur seadanya di pinggiran kali code itu. Tapi bagi anak kampung seperti saya jelas itu jauh lebih baik dari di Kampung saya. Waktu itu saya malah dapat tempat kost yang tidak perlu bayar apa-apa.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana hidup dengan uang sebesar itu? Memang harga beras waktu itu per kilonya juga masih rp 30 rupiah. Jadi 10 kg harganya sebesar 300 rupiah. Tapi hidup dengan uang 700 rupiah perbulan, sudah termasuk semuanya secara logika itu tidak masuk akal. Teman saya yang waktu itu kost di asrama Realino, bayarannya sudah 15 ribu rupiah per bulan. Tapi saya sangat percaya jalan pasti ada. Saya  yakin sekali jalan untuk itu pasti ada. Cuma sayangnya saya belum tahu. Dari berbagai analisa yang saya lakukan, maka jalan yang tersedia adalah jadi penulis di koran harian. Karena menulis tidak terikat waktu, tidak menggangu waktu kuliah. Tapi menulis untuk bisa dimuat di koran tentunya, bukanlah tulisan yang dibuat oleh penulis seperti saya yang tidak tahu apa-apa tentang menulis. Tapi jalan itu jelas terbuka. Dan saya percaya jalan saya ada di sana. Cuma bagaimana memulainya.
Saya beruntung dan tergolong anak anak yang mudah beradaptasi, dan dengan cepat saya mendapatkan tugas sebagai pembersih dan penunggu “kantor” RW. Sebagai petugas RW saya boleh memakai sarana itu kapan saja, tugas saya hanya merawat kantor dan mengetikkan dan menyampaikan surat-surat dinas dan undangan. Entah bagaimana ceritanya, pak RW malah membolehkan saya tinggal di situ, lengkap dengan makan minum gratis di warung yang ada di dekat kantor itu. Coba bayangkan, alangkah murahnya hati pak RW itu. Tuhan menolongku lewat kebaikan hati pak RW. Sederhananya saya dapat pekerjaan jadi penjaga dan merawat kantor RW tanpa upah, tetapi sebaliknya saya bisa tinggal di kantor itu dan dapat makan di warung yang ada disamping kantor. Sungguh pencapaian yang luar biasa dan, itu saya peroleh ketika saat mandi di pinggiran kali code.
Sungguh saya sangat bersyukur karena “tangan Tuhan” memberikan saya begitu mudahnya dan semuanya. Tempat tinggal dengan semua sarananya, malah ada listrik, air ledeng dan mesin tik kantor yang bisa saya pakai sampai pagi. Padahal umumnya warga di situ ya hanya dengan lampu teplok dan air sumur. Waktu itu, sasaran dan tekad saya hanya satu jadi penulis. Menulis untuk mendapatkan honor bagi kelanjutan kuliah. Sebagai mahasiswa UGM akses ke perpustakaan terbuka lebar, bahan bacaan saya melimpah. Meski saya tidak atau belum bisa berbahasa inggeris, tapi anehnya saya merasa ngerti apa yang dimaksudkan oleh tulisan dalam buku-buku atau majalah berbahasa inggeris itu. Jadi seolah ide tulisan itu bisa saya tangkap untuk kemudian saya tuliskan dalam aroma dan suasana kehidupan sosial masyarakat kita. Saya terus menulis, menulis, menulis dan menulis. Menulis dengan mesin tik setiap ada kesempatan.
Sampai suatu hari setelah enam bulan mengetik tulisan siang  dan malam. Salah satu tulisan saya dimuat di Koran dua mingguan Eksponen Yogyakarta. Aduh senangnya bukan main. Rasanya dunia ini jadi begitu indah. Saya lalu ajak anak pak RW mengambil honor tulisan itu di jalan KH Dahlan. Memang besarnya hanya 500 rupiah, dan honor itu sendiri saya berikan ke anaknya pak RW. Maka sontak di desa itu nama saya jadi buah bibir dan terkenal, mahasiswa UGM itu ternyata pintar juga menulis. Tetapi yang lebih heboh lagi, dua minggu kemudian, koran Sinar Harapan Jakarta memuat tulisan saya dengan honor 27.500 rupiah. Setelah itu tulisan saya sudah ada dimana-mana. Bayangkan teman-teman saya umumnya hanya punya wessel antara 15-25 ribu perbulan sementara saya sudah punya penghasilan dengan rata-rata 30 ribu perbulan.
Saya percaya kemudahan itu, memang diberikan Tuhan pada saya karena saya telah meminta kepadaNYA. Saya telah melakoni hidup dengan penuh adaptasi, menjaga hubungan baik, menjadi anak muda yang santun dan ringan tangan. Saya tahu banyak orang yang bersimpati dengan upaya saya, ditambah lagi doa kedua orang tua setiap saat. Sejujurnya saya juga tahu dan yakin bahwa dalam perjalanan kehidupan saya, Tuhan pasti membantu saya dan yakin seyakin yakinnya bahwa pertolongan Tuhan pasti datang bila sudah tiba saatnya. Saya hanya perlu bersabar, bersabar dan ihtiar. Tapi kapan? Itulah rahasiaNYA. Karena itu saya melakukannya dengan yang terbaik, dengan empati serta dibalur dengan semangat pantang menyerah. Berkarya dengan merebut HatiNYA. Dengan referensi seperti itu, saya ingin menuliskan buku ini bagi anak-anak muda zaman sekarang. Zaman dimana semua serba ada dan serba tinggal sentuh.

MENULIS DI ERA DOT COM. Para pembaca yang budiman, era dot com ini adalah era para penulis memerlukan penyesuaian dari pola lama yang hanya fokus pada penulis buku tradisional untuk kemudian menjadi penulis yang memahami era dot com, memahami berbagai sarana, fasilitas serta software yang memudahkan mereka untuk berkarya dalam bidang tulis menulis yang sudah mereka senangi. Karena akan sangat sulit bagi seorang penulis yang masih tertinggal dan bertahan dengan pola tradisi lama. Tamsilannya anda bisa bayangkan bagaimana seorang penulis di zaman seperti sekarang ini masih mengan dalkan mesin tik dalam cara berkaryanya. Memang tidak ada yang salah di sana, tetapi membayangkan anda masih mengetik sembari memberikan koreksi di sana sini dengan mempergunakan tip-Ex tentulah sungguh sebuah Ironi. Siapapun memerlukan perubahan, dan perubahan membutuhkan penyesuaian. Anda perlu menyesuaikan diri dengan era dot com. Dunia dimana semua serba terbuka transparan dan sederhana, asal tahu caranya.
Apakah seorang penulis zaman ini bisa mengabaikan kehadiran jejaring sosial? Jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Linked-In, StumbleUpon, Tumblr, Google, Yahoo, Bing dll? Jawabannya jelas Tidak. Anda perlu minimal memahaminya tetapi lebih baik lagi menguasai ilmunya. Sementara penulis lainnya justeru telah berada dari bagian jejaring sosial itu sendiri. Saya masih ingat pengalaman sebagai penulis artikel koran di tahun 70an. Kita harus berlangganan beberapa koran utama, atau sering nongkrong di kios-kios koran langganan untuk sekedar melihat apakah tulisan kita dimuat pada hari itu apa tidak? Atau untuk mengetahui berita atau isu apa yang lagi “in” di berbagai media masa. Menulis pada waktu itu sungguh membutuhkan ketelatenan dan cerdas menyimpan informasi yang bakal jadi referensi bagi tulisan-tulisan berikutnya. Bayangkan, sekarang dengan perangkat komputer semua bisa dilakukan dengan mudahnya, dan bisa dilakukan dari mana saja sejauh ada koneksi online.
Buku ini bisa terbit tidak lepas dari bantuan dari para sahabat, baik itu berupa saran dan juga mereka yang ikut  menambahkan berbagai masukan untuk disertakan dalam tulisan buku ini. Memang ada beberapa yang terpaksa di tunda karena kalau dimasukkan takut akan terlalu jauh melebar dan memanjang. Padahal niat dari sananya hanya ingin membatasinya sampai pada memanfaatkan kemampuan menulis untuk membuka jalan kehidupan baru. Seperti pengalaman penulis sendiri, benar-benar merasakan betap besar manfaatnya menulis pada saat “semua jalan seolah tertutup”. Dengan menulis malah bisa dpercaya ia bisa memberi solusi dan juga bahkan mengantarkan kita ke jalan berikutnya. Jalan yang juga tidak kalah menariknya.
Saya berterima kasih kepada rekan-rekan sesama peneliti semasa di CDBR (center defence border reasearh) Universitas Pertahanan di era tahun 2012 seperti Dr Sobar Sutisna, Dr MD La Ode, Dr Nano Supriyatno Dll yang tidak bisa saya sebutkan disini;  yang ternyata adalah para penulis dan pembicara handal yang kemudian terus berkembang diatas keahlian utamanya masing-masing. Berdiskusi dengan mereka rasanya tiada bahan yang tidak bisa diurai untuk dituliskan kembali.Termasuk dengan kesediaan mereka diajak kapan saja (lewat hape) untuk berbagi informasi dan sudut pandang. Sedikit banyak pengaruh seperti itu ada pada Buku ini.
Penulis era dot com adalah penulis yang dituntut untuk dapat memahami dunia online. Penulis yang mengerti tentang SEO terkait penulisan artikelnya baik buat blog, terkait sosial media, press release, e-book dan menulis buku serta cara-cara penerbitannya. Karena itu penulis akan berusaha sekuat yang bisa untuk tetap konsisten agar alurnya mengacu kepada penulis di era online. Penulis yang berusaha memanfaatkan kemampuan menulisnya untuk kehidupannya, terserah seperti apakah kehidupannya itu sendiri. Sebab menulis di era online ini tidak terhingga peluangnya. Anda bisa jadi penulis di media masa, jadi penulis buku, penulis E-book, penulis artikel untuk berbagai website atau blog.  Penulis bayaran, penulis Gostwriter dll. Begitu banyak sehingga tidak kuat untuk menuliskannya satu persatu serta dengan imbalan yang juga tidak kalah menariknya.
Bayangkan di meja anda seolah dihadirkan ruang buku perpustakaan atau referensi yang besarnya lebih besar dari lapangan sepak Bola Gelora Bung Karno? Yang benar? La iyalah. Coba anda bayangkan betapa hebatnya layanan informasi yang bisa anda dapatkan lewat Google (www.google.com), Bing, Yahoo dll. Coba ketikkan apa saja di Search engine Google misalnya, maka dalam hitungan detik anda akan disuguhi ratusan juta info terkait apa yang anda mintak. Itu bermakna ratusan jutaan lembar buku, yang kalau anda masukkan dalam satu ruangan; sungguh tidak terbayang betapa besarnya ruangan yang anda perlukan. Kehidupan era Dot Com benar-benar informasi Dunia ini ada dalam jinjingan tangan anda; ruaarrr biasa. Kalau kita tidak bisa memanfaatkannya, maka yang konyol itu siapa?



UNTUK SIAPA BUKU SAYA TULIS. Pertama-tama dan terus terang buku ini cocok bagi mereka yang aslinya memang seorang penulis atau mereka yang hobby nya sebagai penulis tetapi juga suka kehidupan Online, apakah itu sebagai penggiat jejaring sosial seperti Facebooker, Tweeter, Linked-In, Instagram, Stumble Upon, Tumblr atau sebagai seorang blogger, atau para affiliasi atau affiliate marketing atau pebisnis online. Buku ini meski masih penuh dengan keterbatasannya tetapi satu hal yang dapat anda petik dari Buku ini yakni bisa mendapatkan berbagai peluang baru dalam dunia penulisan serta sekaligus mulai membangun bisnis Online kepenulisan itu sendiri. Buku ini sesungguhnya memperlihatkan dunia dot com, dengan berbagai celah dan peluang yang ada di dunia online dilihat dari sisi seorang penulis. Bahwa apakah anda nantinya tetap sebagai seorang penulis buku yang memahami dunia dot com atau penulis yang sepenuhnya mampu memnfaatkan dunia online bagi kepenulisan anda sendiri. Terserah anda.
Sebagai Blogger misalnya, anda dengan mudah melakukan sesuatu yang bisa dan potensil menghasilkan uang tambahan bagi anda. Pertama dengan buku ini diharapkan anda mengetahui dunia dot com, dan dengan kemampuan anda sebagai penulis dapat menulis berbagai artikel di blog yang SEO friendly, berbagai artikel yang benghantar blog anda sehingga ia mampu jadi blog yang menjadi trenzetter, yang banyak dikunjungi. Sebuah kesempatan yang bisa anda jadikan sebagai ladang baru dalam mendapatkan penghasilan, baik dari pemasukan iklan dan juga “monetize” blog anda sendiri. Di ujung semua itu anda masih bisa menjadikan blog anda sebagai tempat yang nyaman untuk mengumpulkan dan memperkenalkan tulisan-tulisan anda lainnya, baik yang berupa laporan, berupa E-Books atau buku-buku baru anda yang memberikan manfaat bagi pengunjung Blog Anda. Nanti bila tiba saatnya anda bisa membukukannya sesuai genre yang ada.  Semua itu akan membawa kemaslahatan tambahan bagi anda baik dari sisi glamornya kehidupan Dot Com atau secara finacial sekalipun.
Sasaran utama adalah mereka yang senang dengan kehidupan sebagai penulis tetapi masih awam dengan kehidupan atau peluang menulis secara Online, bagi mereka buku ini diharapkan dapat menjadi pembuka jalan untuk mereka membuka diri dengan era baru yang lebih baik lagi. Jika Anda seorang penulis dan sedang mencari cara yang cepat, sederhana, dan terbukti mampu menghasilkan uang serta menciptakan gaya hidup dot com, maka buku ini bisa menjadi sesuatu yang sesuai dan bisa saya tunjukkan untuk Anda. Lihat, itu bukan rahasia kehidupan dot com tapi cara ini jelas mampu menciptakan lebih banyak jutawan dari penulis yang ada di Nusantara. Maksudku, menghasilkan uang melalui kegiatan penulisan serta membawanya ke dunia bisnis menulis online yang ada di dalam jaringan dot com.
Benang merahnya adalah sebagai penulis di zaman dot com anda perlu membuka diri dengan dunia online, anda harus memulai nya dengan menulis artikel yang disukai oleh mesin pencari seperti Google, Bing, Yahoo dll. Untuk menulis artikel yang mereka sukai, tentu anda harus memahami apa yang disebut dengan dunia blog dan tulisan-tulisan yang SEO frindly. Sebagai penulis anda juga memerlukan pembangunan Brand anda sendiri, semua itu tersedia di dunia dot com, mulai dari yang gratis sampai yang berbayar. Idenya andalah anda harus memulai dan mengembangkan brand kepenulisan anda sendiri. Cara ini adalah salah satu cara terbaik untuk memiliki lebih banyak peluang yang bisa memberikan penghasilan, fleksibilitas, gaya hidup dot com dalam kehidupan Anda.

MENGAPA BUKU INI SAYA TULIS. Terus terang saya terinspirasi oleh banyaknya para penulis muda yang kemampuan menulisnya sungguh memukau. Tetapi mereka seolah tidak mampu menemukan pasarnya, sebab begitu mereka ke penerbit maka jelas kelasnya belum sampai. Para penerbit saat ini sudah membuat standar tersendiri. Para penerbit yang umumnya hanya akan bersedia menerbitkan buku-buku yang sudah jelas ada pasarnya, pasar yang minimal bisa menyerap sebanyak 5000 examplar pertahun. Jelas itu bukanlah dunia bagi penulis pemula. Tetapi pada saat yang sama dunia dot com memberikan begitu banyak peluang bagi para penulis. Dunia online telah hadir dan mampu menerima anda apa adanya.Kalau anda punya ilmunya, maka anda dengan mudah dapat mulai membangun Image atau brand anda meski dengan modal gratis. 
Kadang ada juga diantara mereka yag sudah memasuki dunia dot com, pandai menulis serta mempunya gaya menulis yang untuk pemula sebenarnya sudah jauh diatas rata-rata, bagus dan mengesankan tetapi hanya sebatas itu. Ada juga anak anak muda yang mengisi blognya dengan berbagai banner, iklan dan sejenisnya yang sebenarnya sedikit mengganggu bagi para pembaca mereka, yang pada ujungnya bisa membuat para pembaca mereka meninggalkan blog, yang menyebabkan berkurangnya fans setia. Hal-hal seperti itulah yang membuat saya ingin menuliskan buku ini. Kalau cara mereka menyajikannya baik dan tahu cara menempatkan media sosial di dalamnya secara benar, maka semua dapat manfaat. Para pembaca tahu produk yang sesuai dengan topik bahasan serta bermanfaat bagi mereka, dan pengelola blog sendiri bisa mulai menulis sesuai genre yang ia suka.

Tapi anda juga harus realistis. Sebagai contoh misalnya kita melihat para penulis E-Book di Amerika. Di sana tercatat ada lebih dari 35 juta orang blogger, dan hanya 5 % diantaranya yang mencoba melihat segmen E-Book sebagai sesuatu yang potensil untuk memberikan mereka penghasilan. Memang dunia E-Book beda dengan Buku. Bayangkan kalau anda sebagai penulis di sana, anda dengan mudah mendapatkan berbagai bahan tulisan yang berupa PLR, RR dan MRR mereka dengan mudah memodifikasi bahan-bahan seperti itu sesuai dengan genre yang mereka kuasai. Kalau E-Book nya sudah jadi mereka tinggal meng-Up Load nya ke Amazon.com atau Swordmans.com dll yang sejenis maka E-Book mereka sudah bisa memasuki pasar internasional yang potensinya luar biasa. Kalau E-Book anda di sukai pasar meski dengan harga $2 tetapi kalau terjual 5000 copies saja,  anda sudah mendapatkan $10.000 atau setara dengan 120 juta rupiah. Sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.