July 30, 2015

Menghubungkan Masa lalu, Kini dan Nanti



Menghubungkan Masa lalu, Kini dan Nanti
Oleh Arahmaiani

Mengenang, menggali, dan menghidupkan kembali budaya kreativitas masa lalu adalah kebiasaan baik dan penghormatan pada usaha manusia. Apakah itu leluhur suku tertentu ataupun bangsa tertentu dengan segala perbedaan dan kesamaannya adalah cermin usaha manusia untuk merayakan kehidupan. Merupakan upaya untuk menghargai apa yang sudah dilakukan para perintis demi mencapai kualitas kehidupan yang manusiawi dan selaras dengan alam.
http://nulisbuku.com/books/view_book/7291/ketika-semua-jalan-tertutup-menulis-malah-memberiku-segalanya

Sejatinya merayakan kekayaan peninggalan budaya dan peradaban manusia atau hasil kreativitas adalah sikap yang harus dihargai oleh siapa pun. Tanpa memilah-milah sedemikian rupa untuk mengunggulkan satu dan merendahkan lainnya. Apalagi jika mengingat bagaimana kita membutuhkan kehidupan dalam kebersamaan demi kesatuan umat manusia yang terancam terpecah belah dan saling menghancurkan. Entah karena perbedaan ideologi, keyakinan, kebudayaan, ataupun sekadar kebiasaan. Namun, bisa membawa petaka memilukan: perseteruan, perang, dan kehancuran kehidupan yang seperti bisa kita saksikan terjadi di berbagai tempat dan pelosok bumi saat ini. Bagaimana manusia bisa menjadi kejam dan tega, tidak hanya terhadap sesama, tetapi juga pada makhluk lain dan planet bumi yang menjadi rumahnya.
Berkaca Pada Kenyataan
Indonesia tentu tidak terkecuali dalam hal ini. Perpecahan kalangan elite politik dan usaha mereka untuk melindungi diri dari ancaman hukum dan memelintirnya karena mungkin terlibat kasus korupsi adalah sebuah kenyataan yang harus diwaspadai. Bagaimana manipulasi wacana politik yang awalnya terdengar mulia dan diwarnai janji tanggung jawab untuk kesejahteraan bangsa bisa berubah. Dalam kenyataannya menjadi sekadar cara untuk mencari dukungan demi keuntungan pribadi atau kelompok.
Begitu pula dengan laku berbisnis yang tak bertanggung jawab yang telah mengakibatkan hancurnya lingkungan hidup. Mengakibatkan nyaris punahnya hutan tropis kedua terbesar di dunia karena keserakahan pengusaha dan praktik korupsi aparat pemerintah. Menghilangkan lahan hidup masyarakat adat yang juga berarti meluluhlantakkan budayanya. Juga telah menyumbang permasalahan lain, seperti polusi udara, air, dan tanah. Selain itu, juga menambah emisi karbon yang akan memperparah pemanasan global dan perubahan cuaca. Akhirnya akan menyengsarakan bukan saja orang Indonesia, melainkan juga seluruh penghuni planet ini. Karena dalam kenyataannya kita hidup dalam keterkaitan antara satu dan lainnya. Ya, sudah saatnya ide ”kedaulatan nasional” kini diperlebar lagi pemaknaannya.
Begitulah, betapa luas dan rumitnya permasalahan kehidupan hari ini. Dipicu oleh sistem keuangan dan industri yang pada awalnya bertujuan untuk menyejahterakan kehidupan lewat modernisasi yang lahir dari masa ”pencerahan”. Manusia kini dihadapkan pada kenyataan bahwa usahanya untuk kebaikan tidak selalu berhasil dan malah justru membawa bahaya atau bahkan petaka. Demikian manusia tak luput dari kesalahan dan harus menanggung akibatnya.
Krisis demi krisis keuangan global maupun regional telah membuat kehidupan menjadi tanpa kepastian. Harga barang kebutuhan terus merambat naik, sementara ekonomi perlahan mengalami stagnasi atau bahkan penurunan. Jurang antara si kaya yang minoritas dan si miskin yang mayoritas menjadi makin lebar dan menganga. Mengakibatkan masalah ketidakadilan sosial yang sangat serius dan mengancam hancurnya kerekatan. Korban banyak berjatuhan dan mengakibatkan arus pengungsian yang amat besar ke berbagai tujuan. Menimbulkan masalah sosial politik yang rumit dan berpotensi memicu persoalan yang lebih gawat seperti ambil contoh apa yang terjadi di Myanmar, di mana umat Islam dan Buddha seakan menjadi bermusuhan.
Peringatan Universal
Semua masalah ini adalah peringatan lebih dari cukup yang harus segera kita tanggapi. Amat sulit memang membayangkan bagaimana mencari solusi dari masalah yang sedemikian rumit ini. Dibutuhkan eksplorasi kreatif yang tak hanya dibatasi oleh kegiatan seni biasa, tetapi yang bersifat trans-disiplin. Dalam hal ini pun tidak dibatasi oleh praktik yang sudah dikenal selama ini. Perlu dibuat terobosan lebih jauh di mana pada dasarnya semua elemen dalam masyarakat bisa diajak berdialog dan bekerja sama.
Cara dan metode ”kuno” yang bersifat konfrontatif—biasanya dilakukan pada penguasa atau mereka yang di posisi kuat—mungkin dalam konteks hari ini sudah tidak efektif lagi. Karena memang sering kali hanya menjadi kegiatan sebatas wacana kalaupun bukan pemicu kekerasan dan perpecahan! Inilah tantangan garda depan yang utamanya harus dihadapi dalam kebersamaan oleh seniman, ilmuwan, dan rohaniwan. Memadukan dengan cara kreatif bidang dan keahlian berbeda dalam kesetaraan. Menghormati perbedaan tetapi sekaligus mampu melihat persamaan yang akan menjadi penghubungnya. Dengan demikian, segala potensi dan kemungkinan bisa diberdayakan tanpa dihambat oleh tembok pemisah berupa keangkuhan kekhususan bidang masing-masing.
Kembali ke kebudayaan kreatif masa lalu sebagai sebuah contoh model di mana elemen-elemen tersebut di atas bersatu-padu dalam usaha untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Bisa dilihat dari peninggalan-peninggalan masa lalu yang tergambarkan di candi-candi kuno, baik yang dibuat dari batu maupun terakota atau tembikar yang juga dikenal dengan nama gerabah. Misalnya, rumah peribadatan kuno gerabah yang paling tua di Nusantara sampai sejauh yang sudah ditemukan adalah candi Batu Jaya di Jawa Barat (dibangun pada abad ke-4 hingga ke-5 Masehi). Ini bisa dijadikan contoh bagaimana ilmuwan, rohaniwan, teknokrat, dan seniman bekerja sama mewujudkan wadah yang menjadi tempat mengolah kehidupan, baik pada tataran spiritual, mental, maupun intelektual secara terintegrasi.
Sekalipun tempat ini diciptakan dengan teknologi awal yang sederhana, tak mengurangi nilai dan sistem budaya yang mengintegrasikan segala potensi manusia untuk bisa menjadikan kehidupan lebih beradab dan bermartabat. Hal ini bisa dijadikan bahan renungan di dalam konteks budaya dan peradaban modern yang kini menjadi melenceng dari apa yang diharapkan oleh para pembaru di zaman pencerahan. Yang justru malah menimbulkan petaka bagi umat manusia dan merisikokan kehidupan.
Dalam lingkup dan konteks hari ini kita bisa mulai dengan hal sederhana, semisal memulai kembali menghayati cara berkreasi gerabah (tembikar) atau terakota ini. Yang bersifat ramah lingkungan dan murah sehingga bisa dimanfaatkan dan dilakukan siapa saja. Tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, bangsa, maupun warna kulit. Dengan cara kerja yang bersifat komunal, orang bisa kembali mempelajari dan menghayati kehidupan yang alami dalam kebersamaan dan keterkaitan. Selain memahami sejarah/sejarah budaya, teknologi, aspek sosial politik, aspek ekonomi, dan antropologi budaya secara umumnya, juga tentunya menyadari kenyataan bahwa alam kini cenderung hanya dipandang sebagai obyek belaka.
Demikian perhelatan seni Biennale Terakota di Desa Kasongan, Bantul, DI Yogyakarta, yang digagas oleh Noor Ibrahim dan Iwan Wijono telah membuka cakrawala kreativitas yang lebih luas. Masa lalu dan kuno yang sering dianggap kurang penting karena tidak tampak secanggih yang kini bisa dibongkar dan didayagunakan lalu dihubungkan dengan masa kini. Dengan demikian, fantasi dan imajinasi manusia bisa diaktifkan untuk secara leluasa memasuki masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Yang akan memacu lebih jauh kreativitas tanpa meninggalkan akar budaya serta penghargaan atas keberlimpahan dan keramahan alam. (kompas,26 juli 2015)

July 21, 2015

Penulis Sukses, Penulis dan Pengarang Buku Laris Di Indonesia



Penulis Sukses, Penulis dan Pengarang Buku Laris Di Indonesia
Siapa sesungguhnya penulis dan pengarang paling terkenal di Indonesia? Sejatinya itu hanyalah persoalan sederhana; yakni penulis yang paling banyak bukunya terjual. Tetapi kalau saya menyebutkan beberapa pengarang atau penulis terkenal di sini, lebih cenderung pada pendapat pribadi. Terlepas apakah mereka yang paling terkenal atau tidak, bagi saya itu tidak menjadi masalah. Tetapi apa yang membuat mereka bisa terkenal dan bukunya laris tentu hanya orang pemasaranlah yang paling tahu sebabnya. Sebab jangan lupa, pasar itu bisa direkayasa dan rasa itu bisa di populerkan. Apakah itu enak atau tidak? Jawabnya relatif.
Saya malah lebih cenderung untuk mengatakan bahwa kegiatan tulis-menulis tentu mensyaratkan ketrampilan menulis. Bagaimana mungkin tulisan bisa dikatakan baik tanpa ketrampilan menulis, yaitu ketrampilan untuk mengungkapkan pikiran dengan untaian kata, rangkaian kalimat, dan susunan paragraph dalam tulisan. Hanya saja yang perlu diketahui dan diyakini oleh setiap orang adalah bahwa ketrampilan menulis tidak muncul tiba-tiba. Ketrampilan tersebut harus dibangun dan ditumbuhkembangkan dengan aktifitas menulis yang tak mengenal bosan dan lelah dan sembari terus berlatih dan berlatih, menulis dan terus menulis.
Ada pula kekuatan bakat di sana. Kalau ada bakat maka jelas akan bertambah lagi nilainya,  tetapi sekedar mengandalkan bakat saja tentu tak cukup. Bakat tak pernah bisa mengalahkan latihan, namun latihan disertai bakat akan membuat seseorang menjadi “SPESIAL”, Jadi seorang Penulis yang khas. Ketrampilan menulis itu buah dari latihan terus-menerus yang dilakukan dengan senang hati.
Tulisan yang berbobot dan menyentak itu tidak lepas dari pengetahuan yang dimiliki oleh si penulisnya. Sebuah tulisan meski sama-sama mengusung tema dan judul yang sama, akan sangat berbeda karena latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh si penulisnya. Karena itu sedari awal anda harus jadi  penulis yang menguasasi bidangnya, jadilah spesialis di bidangnya. Memiliki pengetahuan yang mendalam dalam bidang yang kita tulis pastilah akan jadi referensi yang dicari banyak orang.
Wawasan seorang penulis juga akan sangat berperan dalam suatu tulisan. Wawasan berbeda dengan pengalaman dan pengetahuan. Setidaknya begitulah menurut pendapat saya, karena wawasan adalah hasil perpaduan antara pengalaman dan pengetahuan, dan ia kan menjadi simpul-simpul yang sesuai dengan referensi manapun dan bahkan jadi referensi baru dibidangnya. Daya kritis dan kejelian seseorang menjadi kunci agar wawasannya luas. Oleh karenanya, kecerdasan seseorang menjadi fondasi wawasannya. Jadi tidak salah kalau kita mengatakan penulis-penulis sukses didominasi orang-orang cerdas. Tapi bukan berarti sebaliknya? Sebab banyak juga orang yang bisa menikmati tulisan dari orang-orang biasa, malah lebih mudah untuk menikmatinya.
Menulislah selagi anda memang punya keinginan untuk itu. Memang yang terbaik adalah ketika kita menulis tentang hal-hal yang paling kita kuasai dan kita minati. Tapi terlepas dari tema apapun yang akan ditulis, ada satu hal yang harus diingat: Tulisan kita itu nantinya akan dibaca oleh publik, mungkin diterbitkan jadi buku atau dimuat di media cetak atau blog. Karena itu, yang paling penting untuk dipikirkan adalah: Tulisan-tulisan yang kita buat itu harus memiliki nilai tambah, dan bermanfaat. Jadi buatlah tulisan itu menarik dan bermanfaat bagi pembaca.
Inilah daftar penulis buku dan pengarang terkenal di Indonesia menurut salah satu situs wikipedia, ada banyak sekali penulis terkenal rupanya versi wikipedia. Dan anehnya saya sendiri banyak yang tidak mengenal mereka, mungkin juga Anda. Tapi dalam tulisan ini saya akan membagikan informasi yang beda sumber dengan Wikipedia yang ada dan bisa jadi ini sifatnya sesuai penilaian pribadi saja.
Menurut berbagai sumber yang ada, Penulis dan Pengarang Buku Terkenal Di Indonesia ada 4 orang, yaitu:
Andrea Hirata
 
Sebagai penulis buku yang laku keras di pasaran, salah satu judul bukunya adalah Laskar Pelangi. Sumber yang saya dapatkan bahwa Andrea sudah menjual lebih dari 500.000 copy exp bukunya dan dengan total nilai lebih dari Rp 3,2 miliar, itu baru dari satu buku dengan judul laskar pelangi.



Habiburrahman El shirazy 


Penulis yang lulusan Al Azhar Mesir ini sukses sebagai penulis novel, salah satunya adalah yang berjudul Ayat - Ayat Cinta, bukan hanya sebagai buku, namun judul itu juga nge-BUZZ di layar lebar. Dunia perfilman di suguhkan genre film yang berbeda. Tidak hanya sampai di situ, buku - buku lainnya juga sempat mengambil perhatian publik, seperti Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mighrab Cinta, dan lain - lain. Wajar jika masyarakat menjadikan Kang Abik (nama bekennya  Habiburrahman El Shirazy) sebagai penulis buku terkenal di Indonesia.
tentu dia sudah mendapatkan penghasilan yang baik atau malah baik sekali.
Mira W.

Buku-buku yang fenomenal, seperti judul Cinta Sepanjang Amazon, buku itu telah mengangkat penulis yang juga berprofesi dokter umum ini menjadi penulis terkenal di Indonesia. Penulis ini  telah menulis karya lebih dari 20 novel yang laku keras di pasar. Perkiraan penghasilan atau keuntunggan yang dia peroleh dari kegiatan menulis ini lebih dari Rp 2.5 Milyar.

Dewi Dee Lestari

Apakah adan sudah baca tips menulis novel ala Dewi Dee Lestari? jika belum silahkan menuju kesana dengan klik di sini.
Disamping sebagai penyanyi, ternyata Dee adalah penulis yang produktif, buktinya banyak bukunya yang ditemukan di pasar buku dan menjadi best seller. Dari penampilannya yang mengesankan adalah penampilannya sebai seorang ibu yang sederhana, namun mampu memberikan karya tulis yang enak dibaca dan tergolong yang terbaik untuk Indonesia.

Meski saya setuju dengan keempat penulis terkenal ini, saya sendiri sebenarnya bukanlah pembaca karya penulis seperti mereka, dan terus terang saya malah lebih suka baca tulisan Cak Nun dan sejenisnya. Karena itu kalau ingin jadi penulis, janganlah terlalu kaku dengan genre dan pola sebab semua itu ada peminatnya. Tapi kalau anda memang bisa membaca “pasar” maka tentu anda akan punya kans untuk jadi penulis terkenal. Tetapi ingat, tanpa terkenalpun sesungguhnya jadi penulis itu sudah enak dan bisa memberikan anda kehidupan yang baik.

July 18, 2015

Penulis Sukses, Lima Syarat Penulis Sukses Diajarkan Kompasiana



Penulis Sukses, Lima Syarat Penulis Sukses Diajarkan Kompasiana
Satu semester menjadi ‘mahasiswa’ di ‘Universitas’ Kompasiana memberi pelajaran berharga kepenulisan. Boleh jadi Kompasiana tak pernah membeberkan dalam satu artikel tentang itu, tetapi karena setiap Kompasianer adalah ‘mahasiswa’ sekaligus ‘dosen’, maka setiap tulisan tentang kepenulisan adalah bagian dari matakuliah di ‘Kampus’ ini. Setidaknya pengalaman menulis, berkomentar, dan berteman di Kompasiana memberi pelajaran berharga cara menulis yang baik.
http://nulisbuku.com/books/view_book/6707/rahasia-sukses-penulis-preneur-life-style-dot-com

Ada 5 syarat yang ‘diajarkan’ oleh Kompasiana agar seseorang bisa menjadi penulis sukses, yaitu:
Pertama, Ketrampilan Menulis
Kegiatan tulis-menulis tentu saja mensyaratkan ketrampilan menulis. Bagaimana mungkin tulisan bisa dikatakan baik tanpa ketrampilan menulis, yaitu ketrampilan untuk mengungkapkan pikiran dengan untaian kata, rangkaian kalimat, dan susunan paragraph dalam tulisan. Hanya saja yang perlu diketahui dan diyakini oleh setiap orang adalah bahwa ketrampilan menulis tidak muncul tiba-tiba. Ketrampilan tersebut harus dibangun dan ditumbuhkembangkan dengan aktifitas menulis yang tak mengenal bosan dan lelah.
Ada pula kekuatan bakat di sana, tetapi sekedar mengandalkan bakat tak cukup. Bakat tak pernah bisa mengalahkan latihan, namun latihan disertai bakat akan membuat seseorang menjadi “GREAT”, Sosok Penulis Besar. Ketrampilan menulis itu buah dari latihan terus-menerus, bukan diwariskan, apalagi turun dari langit.
Kedua, Pengalaman
Jangan harap bisa menulis dengan baik jika tak punya pengalaman, namun siapa sih orang yang tidak punya pengalaman? Setiap orang hidup memiliki pengalaman yang unik, berbeda dari orang lain. Keunikan itulah kekuatan setiap orang untuk melahirkan tulisan yang baik. Pengalaman adalah sisi kehidupan yang tak terbatas. Ada pengalaman bergaul, pengalaman spiritual, pengalaman berkelana, pengalaman hukum, politik, bahkan cinta dan horor, serta masih ada banyak lagi penglaman lain yang kesemuanya adalah sumber inspirasi tulisan.
Banyak orang mengatakan bahwa pengalamannya banyak, tetapi tak bisa menuliskannya. Itulah sebabnya dia harus mulai menulis, bahkan bisa jadi harus berawal dari sebuah kata yang paling buruk, lucu, dan aneh. Tidak apa-apa, memang seperti itulah yang benar. Lambat laun akan mudah menuangkan alam pikiran yang sangat hirup pikuk menjadi alam tulisan yang indah dan bermanfaat.
Ketiga, Pengetahuan Mendalam
Sebelum dan awal-awal bergabung di Kompasiana, saya sangat percaya diri bahwa saya bisa melahirkan tulisan yang baik. Satu demi satu tulisan saya unggah, dan saya baru tahu bahwa tulisan saya tidak berkualitas atau lebih tepatnya buruk. Ternyata selama ini saya hanya bermimpi bisa menulis dengan baik, tetapi tulisan saya ‘dangkal’. Penyebabnya setelah saya bandingkan dengan tulisan-tulisan bagus di Kompasiana adalah karena saya tidak cukup pengetehuan mendalam tentang topic yang saya tulis. Dari situlah saya paham maksud teori dan tips bahwa penulis itu harus spesialis di bidangnya, meskipun saya sampai saat ini tidak membenarkannya 100%, karena saya berfikir bahwa seseorang bisa menjadi multi spesialis jika mau dan disiplin kuat membangunnya. Dari situ pula timbul dorongan untuk membaca banyak referensi dan tulisan agar memiliki pengetahuan yang dalam sebagai bagian dari upaya melahirkan tulisan yang bagus.
Keempat, Wawasan Luas
Wawasan berbeda dengan pengalaman dan pengetahuan. Setidaknya begitulah menurut pendapat saya, karena wawasan adalah hasil sintesa pengalaman dan pengetahuan menjadi kesimpulan-kesimpulan. Daya kritis dan kejelian seseorang menjadi kunci agar wawasannya luas. Oleh karenanya, kecerdasan seseorang menjadi fondasi wawasannya. Penulis-penulis sukses didominasi orang-orang cerdas.
Namun Anda dan saya yang tidak begitu cerdas tak usah khawatir tidak bisa membuat Tulisan bagus dan menjadi penulis sukses, karena kecerdasan itu sebelas duabelas dengan bakat atau talenta. Latihan-latihan mensintesa dengan sering-sering berfikir dan menulis akan membuat kecerdasan kita terus tumbuh.
Paling-paling kita hanya akan tertinggal dengan orang-orang cerdas itu jika mereka melakukan hal yang sama banyak melakukan latihan seperti kita. Kalau sudah demikian, apa boleh buat, mereka akan berada di depan kita. Namun orang cerdas yang rajin seperti itu tidak banyak. Mereka biasanya merasa cukup dengan kecerdasannya yang melebihi kebanyakan orang. Jadi kita masih berpeluang menjadi penulis handal. Amin.
Kelima, Popularitas
Syarat kelima ini mirip dengan syarat pertama, harus dibangun. Memang benar ada banyak kasus beberapa penulis yang alih profesi, dari sosok terkenal non penulis menjadi penulis. Contoh dekatnya adalah Jusuf Kalla, Mantan Wapres. Kariernya di dunia bisnis dan politik telah masyhur, jika kemudian beliau menulis, sebagaimana sudah dilakukannya di Kompasiana, maka peluang untuk sukses sebagai penulis sangat besar. Popularitas memudahkannya untuk berhasil menjadi penulis, tentu saja jika syarat nomor satu terpenuhi.
Lantas bagaimana dengan orang-orang tidak terkenal seperti saya? Mau tak mau harus terus menulis dan menulis dengan konsisten dan menjadi yang lebih baik. Tulisan-tulisan yang semakin lama pasti semakin baik itu, -sekali lagi saya menyebut “semakin lama tulisan kita pasti semakin baik”- maka kitapun akan dikenal oleh banyak orang, dan nama kita akan semakin populer. Setelah itu, setelah nama kita semakin dikenal, maka setiap tulisan kita akan dipersepsi banyak orang sebagai tulisan yang layak dibaca karena (paling tidak dianggap) memiliki kekuatan dan bermanfaat bagi orang lain.
Jadi, yuk terus menulis, di Social Blog Kompasiana dan di forum lain tanpa lelah. Carilah 1001 alasan bahwa menulis itu mutlak harus dilakukan. Menulis itu 1) ibadah, 2) amal saleh, 3) ciri berperadaban, 4) aktualisasi diri, 5) asyik, 6) warisan abadi, 7) terapi kesehatan, 8) cara paling mudah menjadi pribadi bermanfaat bagi orang lain, 9) rekreasi, 10) jati diri, dan 11) peluang rejeki. Anda bisa menambahkan 990 alasan yang lain agar benar-benar mencapai 1001 alasan untuk terus menulis. SILAKAN!