May 14, 2018

Aroma Doa Bilal Jawad


Ilustrasi oleh  Anton Susanto
Oleh Raudal Tanjung Banua

Apakah doa punya aroma? Setiap kali pertanyaan ini datang menggoda, aku akan teringat seorang tukang doa yang setia di masa kecilku. Entah mengapa, tiap kali mengingatnya, lafaz doa serasa bangkit bersama aroma yang membubung dari hidung ke dalam batin. Adalah Bilal Jawad, lelaki setengah baya yang sudah dianggap sebagai tukang doa keluarga di kampungku lantaran kesetiaannya mendatangi kami pada hari baik bulan baik. Ya, sepekan menjelang bulan puasa, Bilal Jawad akan datang ke kampung kami. Ia tiba selepas siang, dan kembali semalam-malam hari ke rumahnya di kampung lereng bukit. Sebenarnya dia berasal dari kampung kami juga, tetapi menikah di kampung sebelah. Bahkan, ia termasuk kerabat ayahku, karena itu aku dan adikku memanggilnya Pak Uwo.
Di kampung istrinya, ia dipercaya sebagai bilal. Suaranya lengking dan panjang, pas belaka dengan keadaan kampung yang berbukit-bukit. Karena itu, tugasnya sebagai muazin tak tergantikan. Nah, di antara itu, Bilal Jawad punya tugas yang juga tak tergantikan di kampung kami: memimpin doa menyambut Ramadhan!
Sudah menjadi kebiasaan di kampung kami menyambut Ramadhan dengan cara menggelar doa di tiap rumah. Ada beberapa tukang doa yang bisa kami panggil, tetapi yang paling akrab Bilal Jawad. Tinggal menyesuaikan jadwal, maka setiap rumah mendapat giliran didatanginya. Kami akan memasak yang enak-enak: rendang, gulai ayam, goreng itik, kalio jengkol, ikan panggang. Semua itu dihidangkan sehabis berdoa.
Bilal Jawad mencatat jadwal tahunan itu dengan rapi, buktinya tak sekalipun ia alpa atau lupa. Boleh jadi karena ia sekalian berziarah ke makam orangtua, menjenguk kerabat dan menengok rumah kelahirannya. Di rumah yang ditempati keponakannya itulah ia beristirahat, sembari menunggu panggilan memimpin doa.
Ia akan datang ke rumah orang yang memanggilnya dengan naik sepeda ontel. Ia kenakan peci beludru, celana panjang katun serta kemeja lengan panjang. Meski bukan bahan yang mahal, tetapi rapi terawat. Dan, lebih dari itu menjadi penampilannya yang khas.
Dia biasa mengunjuk salam sejak dari halaman disertai dentang lonceng sepeda tiga kali. Bila salam berjawab salam, maka naiklah ia ke atas rumah, duduk di tikar pandan, tempat ia bersiap memimpin doa.
Ia akan bertanya kepada si tuan rumah, apa-apa hajat hendak disampaikan, buat siapa doa dikirimkan. Tuan rumah akan berkata, ini doa hari baik bulan baik, semogalah lancar segala ibadah, didatangkan berkah bagi seisi rumah. Terucap pula nama-nama yang sudah tiada, almarhum-almarhumah, jika sempit kuburnya mohon lapangkan, jika gelap minta terangkan. Lalu harapan supaya anak-anak lancar bersekolah, padi di sawah jauh dari hama, mereka yang di rantau bisa pulang berlebaran tahun ini dan berbagai pinta lagi.
Demikian halnya Bilal Jawad, ia sangat bertanggung jawab. Ia menyambut permintaan dan harapan itu dengan air muka yang yakin. Katanya, Allah Azza Wajalah menyuruh hamba berdoa, dan Dialah Maha Pengabul Segala Pinta. Si tuan rumah serentak menyambut, ”Aaamiiiin..!!” bahkan sebelum doa dimulai.
Bilal Jawad membawa kemenyan sendiri di dalam saku celananya—bentuk tanggung jawabnya yang lain. Jika tuan rumah lupa atau sedang tak punya, ia akan mengeluarkan kemenyan simpanannya itu tanpa diminta. Ke dalam bara api di atas loyang, kemenyan dibubuhkan, maka membubunglah asapnya yang wangi mengiringi doa ke langit tinggi.
Bacaan doa Bilal Jawad sangat fasih. Sayup dan terang ganti-berganti, seolah kata-kata suci itu telah terbang menjauh meninggalkan kami yang duduk bersila, tetapi lalu kembali lagi ketika lafaznya dikeraskan. Doa yang dirapalnya terbilang panjang dan lengkap, ibaratnya dari A sampai Z. Setengah bergurau, orang kampungku biasa berkata, ”Berdoa bersama Bilal Jawad serasa doa setahun diringkas satu hari, semua permintaan ada.”
Setelah doa selesai, dilanjutkan makan bersama. Seketika denting piring dan gelas menggantikan keheningan. Namun, Bilal Jawad makan ala kadarnya, sebab ia akan makan di tiap rumah. Jika sehari ia datangi empat atau lima rumah, maka berapa piring makanan yang harus ia habiskan? Karena itu, ia mengatur porsinya sedemikian rupa, sebab jangan sampai pula di satu rumah ia tak makan. Bisa kecil hati si tuan rumah. Membesarkan hati orang lain itu baik. Toh sisa makanan enak-enak itu selanjutnya akan kami gasak adik-beradik.
Sebelum turun jenjang, ayah-ibu kami biasa menyelipkan lembaran uang ke tangan Bilal Jawad, juga ala kadarnya. Ia ucapkan terima kasih sambil memasukkan uang itu ke dalam kantong celananya, kantong yang sama tempat ia menyimpan kemenyan.
Konon, uang yang disimpan di kantong celana Bilal Jawad bukan saja ikut berubah wangi, tetapi juga dianggap membawa berkah. Entah siapa yang memulainya. Boleh jadi awalnya dari gurauan, tetapi lambat-laun membesar dan diyakini, terutama kalangan anak-anak. Seperti kami yang selalu membayangkan aroma uang yang keluar dari sakunya. Kami senang mengendus-endus uang kertas yang kami miliki. Mana tahu beraroma saku Pak Uwo.
Maka, ketika tercium bau wangi, aku berteriak, ”Uang Bilal Jawad!”
”Uang Pak Uwo!” kata adikku membetulkan kelancanganku.
”Ya, Pak Uwo Jawad,” ulangku.
Kami berebut menciumnya. Namun, ternyata bau rokok pertanda uang itu dari saku ayah. Atau bau rampai pertanda ibu menyimpan uang itu di balik bantal. Ini menambah rasa penasaran kami untuk memburu uang dari saku sang Bilal.
Sepanjang petang hingga malam, Bilal Jawad bisa berdoa di atas tiga hingga lima rumah. Ia akan diberitahu jadwal berdoa terlebih dahulu oleh keluarga yang mengundangnya. Bilamana tiba giliran kami mendoa, maka tugasku memberitahu Pak Uwo.
Lebih sering ia kudapatkan di belakang berkeliling melihat pohon kelapa peninggalan orangtuanya. Kadang membersihkan beluntas, membetulkan pancang kedondong, mengasah pisau, atau memperbaiki payung. Itu cara dia mengisi waktu. Kalau aku datang, ia akan mengusap kepalaku dan kurasakan ada berkah terselubung menaiki puncak ubunku.
Ia bertanya bagaimana sekolahku. Rasa simpatinya membuatku bisa tanpa beban bercerita bahwa aku senang pergi ke muara tempat berlabuh kapal ikan. Aku memungut ikan yang tercecer, meski Paman Markis—Pak Uwo-ku yang lain—sering memarahiku.
”Tujuan Paman Markis-mu baik,” katanya. ”Kalau kau sudah merasakan uang dari menjual ikan, kau tak akan mau sekolah. Kau akan mencari ikan terus, mencari uang terus.”
Nasihatnya sejuk. Bau ikan di muara tiba-tiba terasa menusuk hidungku, membuatku tak mau lagi ke muara. Padahal, sebelumnya Paman Markis selalu gagal mencegahku.
Suatu hari menjelang bulan puasa, entah tahun berapa dari masa kanakku, aku menjemput Pak Uwo Jawad lagi. Kali itu aku menemukannya sudah berpakaian ”dinas” dan bersiap menuntun sepedanya. Karena itu, ia mengajakku sekalian boncengan.
Aku bilang ibu pasti belum siap. ”Tadi kata ibu berdoanya habis magrib, Pak Uwo. Sekarang gulai ibu belum masak.”
Pak Uwo tersenyum. ”Tak mengapa, kita berdoa dulu ke rumah yang lain. Kau, kan, sudah memakai celana panjang,” katanya.
Memang, bila menjemputnya aku selalu disuruh ibu berpakaian rapi, bahkan memakai peci. Kata ibu, selain menghormati orang yang akan memimpin doa, itu bisa membawa berkah. Dan, ibu benar. Buktinya aku diajak Pak Uwo berdoa ke rumah yang lain.
Kami melaju di atas sepedanya menuju rumah Etek Marianis. Sepanjang jalan aku menghirup aroma yang wangi dari punggung baju Pak Uwo. Jiwaku serasa membubung. Kucari-cari aroma yang pernah hinggap di hidungku. Tetap saja aku merasa tak ada aroma yang menyamainya. Itu campuran menyan, asap, bahkan keringat di lengan baju yang bersitahan mengulurkan telapak tangan ke langit.
Belum habis rasa senangku menghirup aroma punggungnya yang agak bungkuk, laki-laki itu sudah menghentikan laju sepeda. Ia bunyikan lonceng tiga kali.
Teng! Teng! Teng!
Dari halaman rumah Etek Marianis yang luas, ia sebar salam ke arah jenjang. Etek Marianis tersenyum manis menyambut kami. Dia sudah tahu bahwa aku anak Si Anu dan ponakan Bilal Jawad, jadi tak ada pertanyaan apa-apa saat ia melihatku.
Kami langsung masuk dan duduk di tikar pandan. Seperti biasa, sebelum berdoa, Etek Marianis menyebut harapannya. Selain menyambut bulan puasa dan mengirim doa untuk leluhur, ia juga berharap suaminya yang masih di Malaysia bisa pulang sebelum Lebaran.
Aku ucapkan ”Aaamiiinnn…” dengan suara keras, seolah menyatakan bahwa diriku ada bersama pemimpin doa. Pak Uwo-ku!
Karena Etek Marianis tak punya kemenyan, maka Pak Uwo mengeluarkan kemenyan dari sakunya. Kemudian ia taburkan ke atas bara di loyang. Dan, begitu bara ditiup, asap membubungkan aroma yang tak terkatakan. Urat sarafku berdenyar. Dadaku penuh. Waktu terasa singkat. Mataku terpejam, dalam, dalam….
Aku baru tersadar ketika seisi rumah bilang ”Aamiiiin…” dan tuan rumah mempersilakan kami makan.
Pak Uwo dipersilakan menyanduk nasi lebih dulu. Nasi putih dari beras baru, wangi dan pulen. Pak Uwo menaruh sepotong ikan kakap di piringku. ”Kau suka ini, kan?” katanya.
Aku mengangguk.
”Makan yang kenyang, Kudal,” kata Etek Marianis. Gulai ikannya enak, tetapi aku malu-malu, apalagi Pak Uwo makannya sedikit dan mencuci tangan lebih dulu.
”Di rumah nanti juga mendoa, Tek,” kataku.
”O, mintalah supaya cita-citamu tercapai, Nak,” kata Etek Marianis lagi.
Selesai makan, kami lalu pamit, pindah ke rumah yang lain.
Dan, begitu pula: berdoa, makan, pergi.
Hanya di rumah yang ketiga, si tuan rumah menganggap aku anak Pak Uwo. Dia memang orang baru di kampungku, meskipun beberapa kali diundang berceramah dan mengisi pengajian di kecamatan. Namanya Baihaqi, usianya separuh usia Pak Uwo. Ia orang kota yang menikah dengan perempuan kampung kami, Maryanti, yang pernah kuliah di kota provinsi. Wajar Om Baihaqi tak tahu siapa aku, bahkan Uni Mar pun lupa padaku. Mereka baru pindah setelah ibu Uni Mar meninggal menyusul sang ayah, kemudian mereka melanjutkan usaha keluarga membuat kerupuk ikan.
Di rumah ini pula, untuk pertama kalinya aku bertemu tuan rumah yang menolak membakar kemenyan, meskipun Pak Uwo bilang, ”Ini sekadar harum-haruman.”
Baihaqi bergeming, sambil bergumam, ”Bagaimanapun, kami takut bidah, Engku.”
Pak Uwo hanya tersenyum, dan tentu saja doa tetap lancar. Entah dalam hatinya ada yang mengganjal, aku tak tahu. Untuk mencairkan suasana, selesai berdoa, Om Baihaqi memberi kami kerupuk ikan. Sebelum melaju, kerupuk itu kami gantung di setang sepeda. Lalu Pak Uwo bersenandung sepanjang jalan, yang kelak kuketahui itu selawat nabi.
Rumahku yang keempat didatangi Pak Uwo hari itu. Sebelum membunyikan lonceng sepeda, ia rogoh saku bajunya. Selembar uang seribuan ia keluarkan. ”Ambil,” katanya.
Aku terkaget takjub mendapatkan uang keberuntungan langsung dari Sang Bilal. Meski bukan dari saku celana tempat kemenyannya tersimpan, tetapi apa bedanya? Seluruh pakaian dan tubuh pendoa seperti Bilal Jawad bagiku sama diselubungi aroma doa.
Aroma itulah yang selalu menggodaku di rantau orang, setiap memasuki bulan Ramadhan. Ya, sudah bertahun-tahun aku hidup merantau, sudah banyak aroma kucium di tengah doa-doa yang dipanjatkan. Aroma setanggi, harum lilin, hio, dupa, dan bunga-bunga. Di antara semua itu, aroma doa Bilal Jawad tak pernah padam, tak lampus diterkam waktu.
Karena itu, aku bergembira kali ini sebab berkesempatan pulang menyambut bulan puasa, sekalian menjenguk ayah-ibuku yang sudah tua. Aku akan berdoa bersama mereka, dipimpin tukang doa kami yang istimewa.
Namun, betapa aku kecewa mendengar kabar dari adikku. ”Sudah lama Pak Uwo tak memimpin doa,” katanya.
”Kenapa begitu?” tanyaku heran. ”Kurasa ia masih kuat menggayuh sepeda…”
Adikku menjelaskan bahwa Bilal Jawad sudah tidak diperkenankan membakar kemenyan saat berdoa setelah Ustaz Baihaqi diangkat jadi imam-khatib yang baru di kampungku. Bagi Bilal Jawad soalnya tentu bukan sebatas larangan itu, tetapi menyangkut harga diri. Entah cara yang ia terima menyinggung perasaan, merasa dipaksa atau yang lain.
Yang jelas sejak itu ia tersisih atau menyisihkan diri di kampung lereng bukit. Namun, aneh, mendengar kabar miring itu, lafaz dan aroma doa Bilal Jawad tiba-tiba membubung di pucuk hidung dan menyusup ke dalam batinku. Sejuk mewangi. Menyepuh langit tinggi.

Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumbar, 19 Januari 1975. Buku cerpennya antara lain Ziarah bagi Yang Hidup (2004) dan Parang tak Berulu (2005). Mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia di Yogyakarta.

Ilustrasi Cerpen, karya Anton Susanto, kelahiran Bandung, 17 Desember 1979. Studio Lukis Departemen Seni Murni FSRD ITB, Bandung. Pameran yang diikuti antara lain ”Banjir”, Bandung (2018) Bandung Drawing Festival (2017)
Simber : Kompas.id, 13 Mei 2018



May 7, 2018

Laki-laki Yang Kawin Dengan Babi

Ilustrasi karya Hadi Soesanto
Setahun silam, menjelang lingsirnya matahari, saat ia memangkas dahan-dahan johar yang tersampir ke atap rumah, seekor babi berlari dari arah utara dan menyeruduk kaki tangga kayu yang ia tunggangi. Tangga kayu itu bergeser beberapa senti, hampir roboh, dan membuat beberapa genting paling tepi lengser dan jatuh ke tanah, berkeping. Seekor babi berwarna kelabu, nyaris hitam, tampak kebingungan, berputar-putar di pekarangan. Mungkin kepala babi itu sedikit pening setelah menabrak kaki tangga.
Ia menuruni anak tangga itu lekas-lekas, takut kalau babi itu kabur. Dengan tangan kanan masih menggenggam arit, dan tangan kiri mencengkeram sempalan dahan johar—yang masih memancarkan bunga-bunga warna kuning menyala, ia menggiring babi itu ke sudut pekarangan. Hendak menangkapnya. Dan babi itu, ia tak menampakkan tanda-tanda akan kabur. Justru ia melenggang tenang, seolah merelakan dirinya ditangkap.
Langit sudah terlanjur remang. Sebab babi itu, ia lupa membereskan dahan-dahan johar yang berserak di teritis rumah. Ia memburu babi malang itu dan menangkapnya. Babi itu menguik. Bagai mengatakan sesuatu. Seekor babi betina yang gemuk, pikirnya. Ia mengira, babi itu telah berlari tanpa henti dari arah hutan, lalu menggasak ladang ubi, dan baru berhenti setelah menubruk kaki tangga yang dipijaknya. Pasti sesuatu tengah mengejarnya. Ia membopong babi itu ke teritis belakang rumah. Ia menatap babi itu penuh rasa haru. Seakan kasihan, atau bahagia mendapatkan semacam berkah berupa babi betina yang gemuk.
Ia memasukkan babi itu ke kandang ayam, lantas silih memindahkan ayam-ayam ke kurungan buluh. Dari dalam rumah, ibunya yang kelewat tua, berjalan pincang dan terbungkuk-bungkuk, berteriak-teriak, ”Apa yang kau lakukan di belakang magrib-magrib begini?”
”Mengandangkan ayam,” balasnya.
Dari balik pintu dapur, meski agak rabun, perempuan tua itu masih bisa melihat lima ekor ayam berkokok ribut dikurungkan menjadi satu.
”Kenapa ayamnya ditaruh di kurungan, bukan di kandang?” perempuan tua itu memprotes.
”Di kandang ada babi, betina,” singkatnya.
Ibunya yang kelewat tua itu begitu jengah dengan segala tindak-tanduk bujangnya yang tambun, pengangguran, dan tak laku kawin. Usianya sudah hampir 40, dan ia masih seperti bocah belasan tahun. Ia waras, dan ia normal. Masih suka menyinggung anak gadis tetangga yang berparas cantik, juga memajang gambar-gambar artis yang ia potong dari koran dan majalah bekas di dinding kamar. Tapi ia tak juga berangkat menikah. Sejak dulu, ia memang tak menampakkan gejala-gejala ingin menikah. Ia tak pernah dekat dengan gadis mana pun, dan tak ada gadis mana pun yang berniat dekat dengannya. Mungkin sebab itu.
Di antara rambutnya yang mulai beruban, ia masih suka dan akan selalu suka nongkrong dengan remaja belasan tahun di mana saja, bermain gitar, gaple, pergi menonton pertunjukan. Bahkan, tak jarang, ia masih suka pergi ke lapangan untuk menyoraki bocah-bocah cilik bermain bola, layangan, atau gundu. Sedangkan rata-rata kawan sebayanya telah menggendong orok dan pergi mengajak anak-anak mereka beli kembang gula, baju-baju lucu, atau mainan.
Para tetangga menganggapnya sebagai bocah yang mengidap keterbelakangan, tapi ibunya yang aroma tanah itu tidak pernah sepakat. Di mata ibunya, ia tetap sosok lelaki yang bisa menjadi gagah, yang pantas menikah, memiliki anak, dan bekerja sebagaimana lelaki dewasa pada umumnya. Selalu saja ada angan-angan berkelebat di kepala perempuan kelewat tua itu, angan-angan yang tak pernah berganti dari tahun ke tahun, sampai tubuhnya kisut dan menua seperti itu. Sebuah kenyataan, bahwa anak lelakinya telah menjadi perjaka tua, tidak pernah diterimanya. Setiap kali ada tetangga atau kerabat berkunjung, atau sekadar lewat muka rumah, ia selalu mencegatnya, lalu bertanya apakah ada gadis di luar sana yang belum menikah, atau sudah menikah tapi menjanda, kalau ada tak ada salahnya dikenalkan pada bujangnya yang seorang itu. Bujangnya anak yang baik lagi penurut. Barangkali cocok. Barangkali jodoh.
Terlampau tuanya ia, mungkin nyaris pikun, ia kerap tak peduli kalau pertanyaan dan pernyataan semacam itu sudah ia lemparkan ke puluhan orang yang sama sebanyak puluhan kali, dari waktu ke waktu. Dan tak seorang pun berminat mendatanginya untuk bertanya perihal anak bujangnya itu. Sampai pada lingsir itu, ia benar-benar menyerah sampai ke alam bawah sadar. Menyerah pada usia, menyerah pada lupa, menyerah pada tanah.
Selepas bujangnya bilang, di dalam kandang ayam ada babi betina, ia melontarkan kata-kata di ambang sadar, serupa doa (atau kutuk?), ”Nikahi saja babi betina itu!” dan selepas itu, ia terpeleset di muka pintu dapur, tak bisa bangun selama hampir seminggu, lalu mengembuskan napas terakhir, dengan ingatan timbul tenggelam, bahwa bujangnya yang seorang itu sudah menikah dan hidup bahagia. Entah menikahi siapa. Menikahi anak gadis tetangga, menikahi seorang janda, atau barangkali menikahi seekor babi betina.
Selepas ibunya yang dijangkiti kepikunan itu meninggal, ia tinggal seorang diri di rumah yang dari hari ke hari makin berselengkat, seperti rumah tanpa penghuni. Karena tak ada yang melarang, ia mulai mengandangkan ternaknya di dapur. Lima ekor ayam dan seekor babi betina. Dari binatang-binatang itulah ia meminta makan. Ayam- ayamnya yang dua ekor jantan, kadang ia bawa ke pasar untuk diadu taruhan. Kadang ia menang dan kerap ia kalah. Sedang tiga ekor yang lain, betina, dan rajin bertelur. Satu di antaranya malah sudah mengerami telurnya. Selain untuk dibabarkan, ia menjual  telur-telur itu buat jamu, sebab, konon telur ayam kampung bagus buat jamu dan harganya lebih mahal dibanding telur ayam petelur.
Para tetangga tak begitu peduli, tak ada yang berminat datang ke rumahnya lagi semenjak ibunya tak ada, kecuali untuk membeli telur ayam kampung sesekali. Saat para tetangga mampir ke rumah untuk membeli telur itulah, ia mengoceh panjang perihal babi betina yang mendatanginya beberapa waktu silam itu. Ia bilang, babi itu adalah babi kiriman Tuhan. Babi betina itu pandai sekali, tidak pilih-pilih makanan, kalau berak bisa pergi ke kakus sendiri. Dan babi itu tampak begitu lucu mengenakan kebaya hijau pupus milik mendiang ibunya. Dan lagi, semenjak kedatangan babi betina itu, ayam-ayamnya semakin rajin bertelur.
Orang-orang tak pernah menggubris omongannya. Kedatangan mereka hanya untuk telur ayam kampung. Sudah. Yang lain tak usah digubris. Isi kepala orang idiot memang bisa macam-macam, pikir mereka.
Dari hari ke hari, menyundul bulan, ayam-ayamnya semakin babar. Dan rumahnya semakin gondrong oleh semak dan dahan-dahan pohon yang tak pernah dipangkas. Setelah ibunya meninggal, tak ada lagi yang menyuruhnya memangkas dahan pohon. Dan ia sendiri tak berminat berurusan dengan selain ayam-ayam dan seekor babi.
Sebuah kabar ganjil datang dan menyebar kemudian, ketika seorang tetangga datang membeli telur dan melihat babi betina itu telah menyusui delapan anak babi. Merah, mungil, mendekam, dan berdesakan. Maka seperti bau, warta itu menyebar dibawa angin dari satu mulut ke dua mulut lalu ke puluhan mulut dan seterusnya.
”Babi itu cuma seekor, betina pula, bagaimana ia bisa hamil dan beranak pinak?”
”Betul juga, tentu tak mungkin babi betina kawin dengan ayam jantan, apalagi mengawini diri sendiri.”
”Kalau begitu sudah jelas,
siapa ayah babi-babi kecil itu.”
”Siapa?”
”Babi lain yang ada di rumah itu!”
”Ya Tuhan, bencana apa lagi yang bakal menimpa kampung ini!”
Semenjak babi betina itu memiliki anak, para tetangga tak sudi lagi membeli telur ayam kampung padanya. Walhasil, ayamnya kian membiak, dan rumahnya benar-benar telah menjelma kandang ternak. Anak-anak babi menguik di mana saja. Anak-anak ayam berkeriap di bawah-bawah kursi, tahinya menghiasi lantai dan meja. Menguarkan aroma busuk tiada pemanai. Di mana-mana.
Bersamaan dengan gencar-gencarnya berita itu, kemarau datang, bagai mengaum. Memberangus hari-hari. Menanduskan ladang dan segala apa yang dijunjungnya. Burung-burung pemakan gabah datang berombongan, bagai wabah, meludeskan padi-padi kurus yang urung dipanen. Dan orang-orang kembali bergunjing, menyalahkan lelaki itu dan babi-babinya. Kampung ini pasti sudah dikutuk, sebab ada manusia bejat yang mengawini babi. Kita harus singkirkan setiap bentuk kezaliman. Mari serukan nama
Tuhan. Untuk menghilangkan bala, mereka harus dihukum, dirajam, dimusnahkan, atau diusir dari kampung ini.
Pada malam yang telah disepakati, warga  berurung menjadi satu, melabrak rumah bau di pinggir ladang ubi itu. Ia yang tak tahu apa-apa, muncul dari balik pintu sambil membopong anak babi yang berkemul sarung. Tubuhnya masih tambun, dan tampangnya kelewat naif. Persis makhluk yang digendongnya. Orang-orang menggertaknya, semula ia hanya mesem, namun teriakan-teriakan itu membuat nyalinya ciut. Lebih-lebih, ketika beberapa orang mulai meringsek keluar masuk rumahnya. Menggebrak pintu, menendang kursi dan meja. Membuat ternak yang tidur malam berhamburan.
Ia tak begitu paham, apa yang sebenarnya diinginkan orang-orang itu. Ia semakin tak paham, ketika orang-orang itu menutup pintu serta jendela rumahnya dari luar, lantas menyodorkan oncor dan menjentikkan api pertama.
Rumah itu mulai dijangkiti api. Dan ia hanya bisa menangis, meronta-ronta di antara cengkeraman orang-orang. Anak babi di tangannya terlepas dan kabur entah ke mana. Ketika api mulai membesar, merambati dinding dan atap rumah, ia menjerit-jerit. Menggelongsor di tanah. Berguling-guling. Seperti bocah cilik yang direbut mainannya. Ia tak sampai hati membayangkan babi-babi dan ayam-ayam kesayangannya itu berlari kalang kabut, kepanasan, dan sesak oleh asap. Ia tak kuasa membayangkan binatang-binatang lucu dan tak berdosa itu bakal terpanggang hidup-hidup.
Di atas rumah yang terbakar itu, langit hitam menjadi merah. Sementara, teriakan orang-orang kian meraja, menyerukan nama Tuhan berulang-ulang. Di antara gumpalan asap yang melambung, bergulung-gulung, ia seperti melihat begitu banyak gambar. Babi-babi yang beterbangan, ayam-ayam yang meluncur, juga wajah marah ibunya.
Mashdar Zainal, lahir di
Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi
serta prosa. Tulisannya tepercik di berbagai media. Cerpennya beberapa kali masuk dalam Kumpulan Cerpen PilihanKompas. Kumpulan cerita terbarunya, Lumpur Tuhan, Pemenang Sayembara Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur, 2017. Kini bermukim di Malang.
_____________________
Hadi Soesanto, lahir di Jember, 25 Mei 1968, menetap di Yogyakarta. Pertama kali berpameran tahun 1989 di Galeri DKS, Surabaya. Kini, ia acap kali mengikuti residensi di luar negeri. Pernah menjadi Top Five Indonesia Art Award VI.
Sumber : Kmpas.id, 6 Mei 2018

March 19, 2018

Tiga Buku Best, Menjadikan Anda Penulis Profesional




Tiga Buku Best, Menjadikan Anda Penulis Profesional
Tiga buku ini sejak awal sudah di desain untuk menjadikan Anda Penulis Profesional. Buku yang cocok sebagai bekal awal bagi melahirkan seorang penulis sederhana tapi profesional. Penulis yang mampu menjadikan penghidupan dari kepenulisan. Penulis yang disamping punya talenta menulis perlu juga bekal Cara menulis yang benar.
Buku Pertama, Ketika Jalan Terutup Menulis Malah Memberiku Segalanya. Adalah kisah tentang seorang mahasiswa yang terjebak dan nyaris berhenti, ketika ia tidak punya uang untuk kuliah. Tanpa bakat, tanpa kemampuan menulis-tetapi malah bertekat menjadikan menulis sebagai usaha untuk membiayai kuliahnya. Padahal pada zaman itu, belum ada computer, semuanya bagai tulis tangan lewat Mesin Tik. Kalau salah harus di Tip Ex dan tulisannya diulang kembali. Tetapi dengan semangat dan ketekunan serta latihan-latihan-dan latihan sampai ahirnya ia bisa jadi penulis di Koran harian dimana-mana. Diujung perjuangannya-mahasiswa itu malah dapat menjadikan dirinya penulis kampus serta jadi penulis lepas sebagai sumber kehidupannya dan malah penghasilannya mampu melebihi wesel bulanan dari para temannya yang kebetulan jadi anak Bupati. Itu kisah riel, karena saya sendirilah pelakunya. Buku ini mengalir dari pengalaman pribadi dibekalkan dengan berbagai ilmu lain untuk memperkuatnya.
Buku kedua Rahasia Sukses Penulis Preneur adalah buku yang membekali anda untuk mentransformasi kemampuan menulis tradisional,menjadi penulis di era Life Style Dot Com. Bagi penulis yang masih asing dengan berbagai gadget dunia Online buku ini cocok buat anda; Penulis Life Style Dot Com, penulis yang dapat memanfaatkan media Online jadi ladang kepenulisan baru-seorang penulis yang diberi bekal untuk bisa membuat website-mulai dari nol hingga websitenya bisa muncul di halaman pertama mesin pencari Google- juga dia diberi bekal untuk memanfaatkan media social seperti Facebook-twitter-Trumbl-Linkedin-Pin It-Stmble Upon-Google + dll. Penulis yang diberi bekal untuk mencoba sedari awal membangun brand nya sendiri. Sampai ia bisa menjadi professional dalam kepenulisannya. Menurut saya , sungguh sebuah buku yang penuh dengan berbagai ilmu dan ketrampilan yang diperlukan oleh seorang penulis di era Lifestyle Dot Com.
Buku ketiga,7 Cara Menulis Artikel Yang Disukai Oleh Koran adalah buku pembekalan yang baik dan teruji untuk berhasil memasarkan tulisannya di berbagai media masa khususnya Koran. Buku yang memperlihatkan bagaimana cara-cara yang cerdas dan efektif untuk bisa menjadikan anda sebagai seorang penulis professional di Koran-koran harian-mingguan atau majalah bulanan. Cara-cara yang sudah teruji dan dilakukan oleh para ahli dalam menulis. Dengan berbekal buku ini; saya yakin anda akan jadi penulis handal, yang tulisannya pasti di senangi oleh para pemimpin redaksi Koran koran yang tulisan anda akan kirimi. Para sahabat atau siapapun anda-dengan berbekal ketiga buku ini sejatinya telah lebih dari cukup untuk menghantarkan anda menjadi penulis bersahaja yang disenangi oleh para pembacanya. Dan dibalik semua itu, anda juga akan bisa menjadi seorang penulis yang sepenuhnya bisa menghandalkan hidup dari menulis.