June 22, 2021

Semua Punya Peluang Nikmati IhtiarMu


 Semua Punya Peluang Nikmati IhtiarMu

 Oleh : Harmen Batubara   

Menurut Gede Prama[1], setiap orang lahir bersama peluangnya. Saya percaya itu, meskipun seseorang itu lahir di tengah keluarga miskin, perkampungan miskin yang kumuh semua itu tidak akan mematikan peluang seseorang. Tetapi sebaliknya kemiskinan dan kesusahan yang diakibatkannya malah jadi “ medan olah yudha” atau kesempatan yang tiada tara untuk menempa diri hingga menjadi seseorang yang mampu mengatasi semua persoalan hidupnya. Sebagai referensi saya kemukakan dua tokoh berikut ini. 

Bahlil Lahadalia, sejak kecil dia sudah dalam putaran kehidupan miskin. Sejak SD dia sudah terbiasa membantu Orangtua. Karena memang saat itu keluarganya,  nyaris tidak punya apa-apa.  Mamahnya terpaksa jadi tukang cuci di rumah tetangga. Hal itu untuk bisa membantu bapaknya yang bekerja sebagai  buruh kuli bangunan dengan gaji saat itu Rp 7.500/hari setara dengan Rp 100.000. saat ini. Keluarga dengan 8 orang bersaudara ini, awalnya 9, salah satu meninggal dunia, Bahlil adalah anak kedua. Kita juga pasti paham, bahwa setiap anggota keluarga ini secara tidak langsung pasti telah berparti sipasi dan memberikan kontribusinya masing-masing. Bisa jadi tidak ada pembagian tugas secara tegas, tetapi semua mengambil peran sesuai kebutuhan. Ada yang ikut strika, ada juga yang ambil jemuran atau ada juga jajakan jualan dst dst. Keluarga kecil itu telah dibimbing oleh alam untuk bisa mengatasi masalah mereka sendiri. Persoalan kehidupan itu telah mampu membuat mereka lebih solid, lebih bekerja sama. Dia merantau ke Jayapura. Dia mampu kuliah di sana dengan biaya yang dia cari sendiri.  Memang tidak mudah. Tetapi ia bisa. Barulah setelah Bahlil bisa jadi Ketua Senat di Universitasnya, barulah ia sadar bahwa ia sebenarnya mempunyai kemampuan luar biasa. Sejak itu Dia  bertekat untuk menghentikan Kemiskinan yang menggelutinya. Dia berhasil, dan malah jadi Pimpinan perusahaan dengan gaji 35 juta perbulan. Pencapaian yang luar biasa. Sejak itu keberhasilan demi keberhasilan terus menyertainya. Hingga ia kini jadi Menteri Negara.

Tokoh kedua, yakni Dahlan Iskan. Bagaimana Dahlan Iskan menghentikan Kemiskinannya?  Juga tidak kalah menariknya. Ia adalah bahagian warga tergolong miskin dan sangat miskin, terhitung sejak ia lahir hingga berkeluarga dan bekerja menjadi reporter  surat kabar Lokal di Samarinda. Tidak hanya itu Dia juga di DO dari  Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Cabang, Samarinda dan juga dari Universitas 17 Agustus, Samarinda di tahun 1975.  Baginya itu adalah sesuatu yang biasa saja. Masalahnya dia melihat peluang pada saat yang tidak tepat. Jadi harus ada yang dikorbankan. Namun demikian pada masa-masa itu, adalah masa-masa kehidupan Koran Kampus, atau Koran yang diterbitkan oleh para Mahasiswa  “menarik” dan berkembang. Koran Kampus dan Koran Nasional saling sinergis, rakyat menyukainya. Koran kampus bisa memberikan mereka, honor dan juga nama. Apalagi pada tahun-tahun 1975 an itu, para mahasiswa lagi getol-getolnya mengkritisi Orde Baru. Masih ingat Malari 1974?   Peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974. Protes mahasiswa atas kehidupan susah serta pemerintahan yang sangat tergantung dengan Modal Asing. Ternyata tulisan-tulisan Dahlan Iskan cukup banyak yang meminatinya. Tahun 1976, dia berhasil bergabung dengan Tempo Group dan kembali ke Surabaya. Sejak itu, ia terus mencetak keberhasilan demi keberhasilan. Kemiskinan telah mengasahnya menjadi seorang anak muda yang tahan banting. Kemiskinna telah menempanya menjadi sesuatu kekuatan yang luar biasa. Sesuatu yang bisa menujukkan bahwa ia sudah terasah dari “sananya”. Ia mampu menjadi penulis hebat dengan jabatan Peminpin Redaksi Jawa Pos. Ia juga mampu mengangkat Koran Jawa Pos yang tadinya hampir Kolaps dengan hanya 6000 eksemplar perhari menjadi 300 ribu eksemplar per hari. Ia mampu menjadi pengusaha yang kantornya saja bisa dia bangun sebagai Kantor termegah di Jawa Timur.  Kariernya terus melambung selepas menjabat sebagai Pemimpin Surat Kabar Jawa Pos (1982-2005); kemudian Mendirikan Stasiun Televisi Lokal JTV (2002); menjadi Komisaris PT Fangbian Iskan Corporindo (FIC) (2009) dan oleh presiden SBY diangkat menjadi Direktur Utama PLN (2009-2011) dan kemudian menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (2011 – 2014).



Ya Menurut Gede Prama, setiap orang lahir bersama peluangnya. Namun sebenarnya, kalau kita  jeli belum tentu setiap orang peduli terhadap peluang. Banyak pula diantara kita yang tidak sempat berpikir tentang peluang itu sendiri. Umumnya kita menerima saja ritme kehidupan itu, terserah ia mau dibawa kemana. Tetapi sudah tepatkah sipat seperti itu ?  Kalau hidup sudah tidak lagi pernah dievaluasi, maka sebenarnya  ritme seperti itu tidak ada bedanya dengan ritme kehidupan hewani. Ya, hidup adalah hari ini, persoalan besok itu soal lain lagi. Atau kelewat  peduli seperti kata  WS Rendra, “ Kemarin- esok adalah hari ini “. Atau apakah anda tidak percaya bahwa segala sesuatunya itu telah sesuai dengan desain sang pencipta ?

Mereka yang mempunyai paham optimis,  meyakini bahwa peluang sebenarnya selalu ada dan akan ada. Masalahnya peluang itu  sering muncul tidak persis seperti yang kita asumsikan. Kalaupun ia datang, kondisinya tidak ideal sebagaimana yang diharapkan. Katakan anda dari Bandung, tepatnya dari Cimahi mau ke Jakarta dan inginnya lewat Puncak. Tetapi setiap Bis yang anda stop, selalu penuh dan mereka tak mau membawa anda. Sementara pada waktu yang bersamaan dan malah hampir setiap saat selalu ada Angkutan Kota dari Cimahi ke Cianjur, dan umumnya selalu saja tersedia tempat kosong. Kalau saja anda mau, anda bisa naik itu; dan dari Cianjur bisa diteruskan oleh Angkot  Cianjur- Bogor dan seterusnya Bisnonstop Bogor – Jakarta.

Sesungguhnya, peluang itu sebenarnya selalu ada; hanya kitalah yang tidak persis mengenalnya atau kalaupun ia datang wujutnya tidak seperti yang kita persepsikan. Untuk selalu mampu mengambil peluang itu, dibutuhkan talenta dan kesediaan  untuk berubah. Hal seperti ini, sulit untuk bisa diterima oleh setiap orang. Orang umumnya tidak mau kalau suatu perubahan itu, berlangsung dengan ritme yang berbeda. Orang cenderung ingin sesuatu yang biasa atau yang lazim serta dapat diperediksi secara jelas. Sangat sulit dibayangkan seseorang yang telah belasan tahun menekuni usaha atau kariernya untuk kemudian merubah arah serta memulainya dari posisi lebih bawah lagi; padahal  secara sadar ia tahu persis  kesempatannya di tempat lama sudah dapat dikatakan pupus sama sekali.

 

 



[1] Gede Prama adalah seorang penulis, pembicara, dan motivator . Ia pernah belajar di Lancaster, Inggris serta Fontainebleau, Prancis. Ia pernah menjadi CEO di dunia korporasi pada usia 38 tahun.

No comments:

Post a Comment